Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Kelompok-kelompok Bersenjata Suriah Mulai Peringatkan dan Ancam Jolani dengan Tiupkan Isu ‘Pembantaian Massal dan Pertumpahan Darah’

POROS PERLAWANAN – Salah satu kelompok bersenjata di Suriah mengancam penguasa baru negara itu, yakni kelompok Jolani, bahwa jika tindakan kejahatan mereka tidak dihentikan, “pembantaian massal” akan terjadi. Peringatan serupa juga disampaikan oleh beberapa kelompok lain, yang menegaskan bahwa situasi ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut.

Konflik Internal: Ketika Persatuan Semu Berbalik Menjadi Kekacauan

Dalam sejarah, ada perumpamaan yang menggambarkan situasi seperti ini: untuk membersihkan dinding sumur dari lumut, beberapa cacing ditempelkan pada dinding sumur agar memakan lumut tersebut. Namun, setelah dinding bersih, masalah baru muncul karena cacing-cacing itu tetap tinggal di sana. Pada akhirnya, mereka mulai saling memakan hingga masalah terselesaikan secara alami.

Nampaknya fenomena serupa terjadi dalam politik Suriah. Ketika koalisi negatif dibentuk untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah, berbagai kelompok yang tidak harmonis dipaksa bersatu. Setelah tujuan bersama tercapai, tidak adanya visi positif membuat mereka saling bertikai. Jika kelompok-kelompok ini memiliki kesadaran politik, konflik mungkin dapat diselesaikan melalui cara-cara demokratis. Namun, ketika mereka bersenjata dan hanya memahami bahasa kekerasan, konflik berubah menjadi pertumpahan darah.

Ancaman “Pembantaian Massal”

Setelah beredarnya laporan dan bukti visual mengenai berbagai kejahatan kelompok ekstremis Takfiri dukungan Erdogan, Tahrir al-Sham (HTS) , kelompok yang menamakan diri sebagai Perlawanan Suriah di Pantai (Resistance of Syria in the Coast) mengeluarkan pernyataan tegas. Kelompok yang terdiri dari individu-individu di Damaskus, wilayah pesisir, dan kota-kota lain ini menyerukan penghentian segera pelanggaran hukum demi menghindari tragedi besar.

Dalam pernyataannya, kelompok ini menyatakan: “Hampir tiga minggu setelah kelompok-kelompok bersenjata mengambil alih kekuasaan di Suriah dengan dukungan Amerika Serikat, Rezim Pendudukan (Israel), dan NATO, kami menyaksikan tindakan seperti pencurian, pelanggaran hukum, kekacauan, korupsi, serta penghancuran properti publik.”

Menurut laporan ISNA pada Rabu 01 Januari, kelompok ini juga merinci pelanggaran lainnya, termasuk pembunuhan tanpa dasar hukum di jalanan dan rumah-rumah penduduk. Mereka meminta semua pihak, baik di dalam maupun di luar Suriah, untuk mendesak pemerintah baru yang dipimpin Ahmed al-Shar’a alias Abu Muhammad al-Jolani agar menghentikan tindakan kriminal terhadap rakyat Suriah.

Kelompok tersebut menegaskan: “Kami masih menunggu keadilan atas darah yang tertumpah agar tidak ada yang menuduh kami sebagai pemicu kekacauan. Kami hanya ingin Suriah menjadi negara Arab yang independen, seperti sebelumnya, untuk semua elemen rakyat Suriah.”

Ironi Teroris Melawan Terorisme

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein mengadakan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri Pemerintahan Sementara Suriah, As’ad al-Shaibani. Dalam percakapan tersebut, al-Shaibani menyatakan komitmennya untuk memerangi terorisme.

Di sisi lain, laporan dari wilayah Suriah yang Diduduki menyebutkan bahwa pasukan khusus AS, yang dikenal sebagai Delta Force, telah memasuki Raqqa melalui perbatasan al-Walid dari Irak pada Senin malam. Mereka diduga akan ditempatkan di sebuah pangkalan militer. Selain Amerika, militer Israel dan Turki juga meningkatkan aktivitas mereka di wilayah tersebut pascajatuhnya Damaskus.

Keterlibatan Prancis

Prancis sebagai salah satu kekuatan imperialisme lama, turut terlibat dalam konflik Suriah. Dengan dalih memerangi terorisme, mereka memberikan dukungan kepada kelompok Tahrir al-Sham. Menteri Pertahanan Prancis mengeklaim telah menyerang markas ISIS di Suriah. Namun, klaim ini diragukan karena banyak pihak menuding intelijen Barat, termasuk Prancis dan Israel, sebagai dalang utama di balik terbentuknya ISIS. Kini, Tahrir al-Sham disebut melanjutkan misi yang ditinggalkan ISIS.

Teroris Asing di Pemerintahan Suriah

Laporan lain yang dirilis Reuters menyebutkan bahwa penguasa baru Suriah telah merekrut “pejuang asing” ke dalam struktur militer mereka. Dua sumber Suriah mengungkapkan bahwa penguasa baru negara itu menunjuk sejumlah militan Islam asing, termasuk warga Uyghur, Yordania, dan Turki, ke posisi militer strategis. Dari 50 jabatan militer yang diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Suriah, setidaknya enam di antaranya diberikan kepada pejuang asing.

Mungkin Jolani dapat mencoba menyalahkan Iran atas semua ini. Namun, di saat yang sama, ia secara tidak langsung mengakui pentingnya hubungan dengan Iran, meskipun kerap melancarkan serangan verbal terhadap negara tersebut.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *