Kelompok Peretas ‘Handala’ Ancam Lumpuhkan Infrastruktur Digital dan Energi AS-Israel
POROS PERLAWANAN — Kelompok peretas Handala Hack Team mengancam akan melancarkan serangan siber berskala lintas negara terhadap infrastruktur energi, jaringan komunikasi, dan sistem digital Amerika Serikat serta Israel jika terjadi eskalasi militer baru di kawasan Timur Tengah.
Ancaman itu disampaikan melalui pernyataan resmi Komando Siber Handala yang mengeklaim telah mengidentifikasi puluhan target strategis di sejumlah negara yang berafiliasi dengan Washington dan Tel Aviv. Kelompok tersebut menyebut seluruh target berada dalam jangkauan operasi gabungan siber dan militer yang telah dipersiapkan.
Menurut laporan Fars News Agency pada Rabu 20 Mei, Handala menyatakan serangan akan dilakukan sejak fase awal setiap potensi konfrontasi terbuka.
“Puluhan target sah telah diidentifikasi di berbagai negara. Pada detik-detik pertama konflik, pukulan destruktif terhadap ‘Setan Besar’ akan dilancarkan melalui operasi gabungan siber, rudal, dan drone,” demikian pernyataan Kelompok tersebut.
Pernyataan itu memperlihatkan semakin kaburnya batas antara perang konvensional dan perang digital di Kawasan. Serangan siber kini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai operasi pendukung, melainkan bagian inti dari strategi tempur modern yang diarahkan untuk melumpuhkan infrastruktur vital lawan sejak awal konflik.
Handala juga mengeklaim memiliki keterkaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran. Dalam pesan propagandanya, Kelompok itu menyatakan kesiapan untuk melakukan aksi balasan atas kematian tokoh yang mereka sebut sebagai “Pemimpin Syahid”.
“Kami memberi tahu umat Islam bahwa putra-putra tak dikenal kalian di Handala dan Garda Revolusi lebih siap dari sebelumnya untuk membalas darah pemimpin kami”, tulis Kelompok tersebut.
Selain ancaman militer dan siber, Handala turut memainkan narasi psikologis dengan mengaitkan operasinya pada perang Gaza dan isu kemanusiaan Palestina. Kelompok itu menuduh dunia internasional gagal menghentikan pembunuhan warga sipil di Gaza dan memperingatkan bahwa diamnya komunitas global akan melahirkan konsekuensi lebih luas.
“Jika dunia dan para pemimpin negara diam terhadap pembunuhan puluhan ribu anak di Gaza, maka mereka juga harus diam terhadap apa yang akan mereka saksikan berikutnya,” demikian isi pernyataan itu.
Munculnya ancaman tersebut menambah ketegangan baru di tengah meningkatnya eskalasi siber global yang melibatkan negara, kelompok peretas terafiliasi, dan aktor non-negara. Dalam beberapa tahun terakhir, infrastruktur energi, sistem komunikasi, fasilitas publik, hingga jaringan keuangan menjadi sasaran utama dalam pola perang digital modern.
Di kawasan Timur Tengah, perang siber kini berkembang menjadi front strategis yang berjalan paralel dengan operasi intelijen, serangan rudal, dan perang drone. Serangan terhadap jaringan energi dan sistem digital dinilai mampu menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan keamanan yang jauh melampaui serangan militer konvensional.
