Kepala Intelijen IRGC Gugur Syahid dalam Serangan Teror Israel di Teheran
POROS PERLAWANAN — Kepala Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Sayyid Majid Khademi, gugur sebagai syahid dalam serangan udara Rezim Zionis di Teheran pada Senin dini hari, di tengah agresi terbuka Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran.
Kabar kesyahidan Khademi diumumkan secara resmi oleh Departemen Hubungan Masyarakat IRGC. Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan serangan tersebut merupakan aksi kriminal dan teror yang dilakukan oleh musuh Amerika dan Rezim Zionis, sebagai bagian dari perang yang lebih luas untuk melemahkan kedaulatan, keamanan, dan keteguhan Iran.
IRGC menyebut Khademi sebagai salah satu figur kunci dalam barisan pertahanan strategis Iran. Selama puluhan tahun, dia berada di garis depan perang intelijen, menghadang infiltrasi, sabotase, dan operasi kotor yang dirancang musuh untuk mengguncang stabilitas nasional dan menembus pertahanan Republik Islam dari dalam.
Dalam pernyataan itu, IRGC juga menegaskan Khademi memainkan peran menonjol dalam memperkuat struktur keamanan Iran dan menggagalkan berbagai skenario subversif yang dirancang oleh jaringan-jaringan intelijen asing. Jejak pengabdiannya disebut menjadi bagian penting dari benteng pertahanan Iran dalam menghadapi perang hibrida yang terus dilancarkan musuh.
Beberapa jam setelah serangan terjadi, Rezim Zionis secara terbuka mengakui keterlibatannya. Menteri Perang Israel, Israel Katz mengatakan dirinya menerima pembaruan tentang operasi tersebut dalam evaluasi bersama Kepala Staf Militer Israel, Letjen Eyal Zamir.
Pengakuan itu kembali menegaskan pola lama Tel Aviv. Pembunuhan membuta, teror negara, dan serangan lintas batas terus digunakan sebagai instrumen resmi kebijakan luar negeri Israel, dengan dukungan politik dan militer penuh dari Washington.
Kesyahidan Khademi menambah daftar panjang komandan, ilmuwan, dan tokoh strategis Iran yang menjadi sasaran dalam operasi permusuhan Rezim Zionis. Namun, sejarah Kawasan berulang kali menunjukkan satu hal bahwa pembunuhan para pemimpin Perlawanan tidak pernah memadamkan Front Perlawanan, melainkan justru memperkeras tekad dan memperluas medan pembalasan.
Gelombang agresi terbaru berlangsung sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel memulai serangan militer terhadap Iran.
Serangan-serangan itu menghantam sejumlah fasilitas militer dan sipil di berbagai wilayah, menewaskan warga sipil, personel militer, serta menimbulkan kerusakan luas pada infrastruktur nasional.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan serangkaian operasi rudal dan drone ke target-target Amerika Serikat di Asia Barat serta posisi-posisi Rezim Zionis di Wilayah Pendudukan. Operasi balasan tersebut menandai babak baru konfrontasi langsung yang selama ini berusaha ditutup-tutupi di balik perang bayangan.
Kesyahidan Sayyid Majid Khademi dipandang bukan sebagai akhir, melainkan bagian dari harga besar yang dibayar Iran dalam mempertahankan kedaulatan nasionalnya. Di Teheran, pesan yang hendak ditegaskan tampak jelas: darah para syuhada tidak menghentikan perlawanan, tetapi menghidupkannya dengan daya pukul yang lebih besar.
