“Kereta Perang Gideon” dan Awal Fase Baru Kebrutalan Rezim Zionis di Gaza
POROS PERLAWANAN – Kebiadaban rezim Zionis di Jalur Gaza telah memasuki fase baru. Dimulai pada Minggu, 18 Mei 2025, rezim pendudukan meluncurkan operasi militer darat skala besar bertajuk “Kereta Perang Gideon” (_Gideon’s Chariots_), sebuah kampanye brutal yang dirancang bukan untuk meraih kemenangan militer, melainkan memperpanjang babak genosida terhadap rakyat Palestina.
Menurut laporan Al Jazeera, kabinet keamanan Israel telah menyetujui rencana ini sejak awal Mei. Dengan dalih “mencapai kemenangan politik dan militer,” operasi ini justru menggambarkan obsesi Zionis terhadap pendudukan total dan kehancuran total Gaza. Target utamanya adalah memaksa Pasukan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyerah tanpa penghentian perang, sebuah ilusi yang dibayar dengan darah ribuan warga sipil.
Makna Nama: Kiasan Talmudik, Warisan Genosida
Nama “Mirkafot Gideon” dalam bahasa Ibrani merujuk pada “kereta perang Gideon”, sebuah rujukan historis dan religius yang sarat makna simbolik dalam narasi Talmudik Zionis. Gideon, tokoh dalam Kitab Hakim-Hakim, adalah simbol militan yang digunakan untuk membenarkan aksi penaklukan atas nama “takdir ilahi.”
Rezim Zionis juga pernah menggunakan nama “Operasi Gideon” dalam kampanye militernya selama Nakba 1948, yang menargetkan wilayah Beisan. Operasi tersebut berakhir dengan pengusiran massal dan pembantaian warga Palestina, dipimpin oleh Brigade Golani antara 10 hingga 15 Mei 1948. Nama yang kini dihidupkan kembali dalam konteks yang nyaris identik: genosida.
Tiga Tahap Penjajahan Ulang
Berdasarkan sumber-sumber resmi Israel, Operasi Kereta Perang Gideon dirancang dalam tiga fase intensif:
Tahap Pertama: Evakuasi Paksa dan Penjajahan Wilayah Utara
Seluruh penduduk Gaza Utara akan dipaksa meninggalkan rumah mereka dan dipindahkan ke Gaza Selatan. Tentara Israel kemudian akan memasuki wilayah kosong tersebut untuk membangun basis militer permanen. Perusahaan-perusahaan sipil yang berafiliasi dengan intelijen militer dikerahkan untuk memetakan kekuatan dan lokasi pasukan perlawanan.
Tahap Kedua: Serangan Udara dan “Zona Aman Palsu”
Dengan dalih kemanusiaan, Israel akan mendeklarasikan Rafah dan daerah di belakang “Garis Morag” sebagai zona aman. Namun, wilayah ini akan sepenuhnya dikontrol dan diakses hanya melalui titik pemeriksaan militer Israel. Serangan udara akan berlanjut, bersamaan dengan penggiringan warga sipil ke “kamp perlindungan”—istilah baru untuk penampungan di bawah pengawasan penjajah.
Tahap Ketiga: Pendudukan Total dan Perang Terowongan
Fase ini ditujukan untuk menduduki kembali sebagian besar wilayah utara Gaza secara permanen. Target utama adalah penghancuran total infrastruktur bawah tanah Hamas, terutama jaringan terowongan, serta penghapusan eksistensi pasukan perlawanan.
Mengulang Kegagalan yang Sama
Sebelumnya, rezim Zionis telah berulangkali mendeklarasikan kemenangan di utara Gaza. Namun selama berbulan-bulan, mereka gagal menaklukkan perlawanan yang terus muncul dari balik reruntuhan. Terowongan yang tidak bisa dilacak, penyergapan mematikan, dan korban jiwa di pihak militer Israel menjadi penanda bahwa ilusi pendudukan permanen tidak lebih dari fantasi berdarah.
Kini, dengan membangkitkan kembali nama operasi dari masa Nakba, Israel sekali lagi mengukir sejarah kelam. Namun seperti yang terjadi sejak 1948, rakyat Palestina menolak tunduk. Sebab di bawah setiap puing Gaza, lahir generasi baru perlawanan.
Poros Perlawanan akan terus memantau perkembangan dan melaporkan kebiadaban terbaru rezim penjajah kepada dunia. Gaza bukan sekadar medan perang; ia adalah ujian nurani umat manusia.
