Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Kerugian Besar Militer Israel di Ambang Penarikan Diri dari Gaza

POROS PERLAWANAN – Gaza kembali menjadi saksi serangan sukses pasukan Perlawanan Palestina terhadap Militer Israel. Dalam operasi terbaru, sedikitnya tujuh tentara Israel tewas dalam serangan yang menargetkan pintu masuk sebuah terowongan di Gaza utara. Operasi ini terjadi di tengah negosiasi gencatan senjata yang berpotensi memaksa Israel mundur dari Gaza sekaligus membebaskan ribuan tahanan Palestina.

Perlawanan Palestina Terus Berlanjut

Meski propaganda Israel berusaha menggambarkan Hamas sebagai kelompok yang telah hancur, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Hampir setiap hari, pasukan Perlawanan Palestina melancarkan serangan yang menimbulkan kerugian signifikan bagi Militer Israel. Operasi militer besar-besaran Israel yang diberi nama “Jenderal” awalnya bertujuan menghancurkan Perlawanan di Gaza utara. Namun, hingga kini, operasi tersebut justru menjadi bumerang dengan korban jiwa yang terus meningkat di pihak Israel.

Sejak 7 Oktober 2023, Israel mengakui kehilangan lebih dari 1.000 tentara, meskipun banyak pihak meyakini angka sebenarnya lebih besar dari yang dilaporkan. Taktik cerdas dan strategi terencana pasukan Perlawanan Palestina telah melemahkan moral militer Israel sekaligus membuktikan ketangguhan Perlawanan di Gaza.

Rincian Serangan Terbaru

Dalam insiden terbaru, tujuh tentara Israel dilaporkan tewas akibat ledakan yang terjadi di pintu masuk sebuah terowongan di Gaza utara. Korban tewas termasuk empat tentara dari Brigade Nahal, dua dari Batalion Netzah Yehuda, dan satu dari Brigade Givati. Selain itu, 30 tentara Israel lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan yang terjadi di hari yang sama dan telah dievakuasi ke rumah sakit di Wilayah Pendudukan.

Reaksi Pejabat Israel

Serangan ini memicu reaksi keras dari para pejabat tinggi Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan, “Kehilangan tentara terbaik kami yang berjuang demi keamanan dan masa depan Israel adalah pukulan berat bagi kami semua.”

Sementara itu, Presiden Israel, Isaac Herzog menyampaikan rasa duka mendalam. “Kehilangan tentara dalam perang ini benar-benar menghancurkan hati kami. Perang ini menuntut harga yang sangat mahal,” katanya.

Surat kabar Maariv pada Minggu 12 Januari menggambarkan situasi di Beit Hanoun sebagai “sangat menyakitkan” dan menekankan bahwa nyawa tentara Israel seharusnya lebih dihargai dibandingkan kepentingan industri militer. Media Israel lainnya juga mengkritik kegagalan operasi militer di Gaza utara yang telah berlangsung selama empat bulan terakhir.

Protes di Wilayah Pendudukan

Kerugian besar di medan perang dan kegagalan membebaskan tahanan Israel memicu gelombang protes di Wilayah Pendudukan. Pada Sabtu malam 11 Januari, ratusan warga Israel turun ke jalan di Tel Aviv, memrotes kebijakan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu. Demonstrasi serupa terjadi di berbagai kota lainnya, termasuk Haifa dan persimpangan Karkur di utara Israel.

Para demonstran menyerukan gencatan senjata dan mendesak rezim Netanyahu untuk mencapai kesepakatan pertukaran tahanan dengan kelompok Perlawanan Palestina. Polisi Israel dilaporkan membubarkan aksi protes di Tel Aviv dengan tindakan represif.

Gencatan Senjata Semakin Dekat

Kekalahan berulang di Gaza dan tekanan dari Amerika Serikat, khususnya dari Presiden terpilih Donald Trump, mendorong Israel mempertimbangkan penarikan diri secara penuh dari Gaza. Media Israel melaporkan bahwa militer telah menyusun rencana penarikan cepat, menyusul kemajuan dalam negosiasi pembebasan tahanan.

Menurut laporan Haaretz pada 12 Januari, rencana penarikan bertahap mencakup tiga tahap. Tahap awal berupa pengurangan pasukan di wilayah tertentu, diikuti dengan penarikan sebagian besar militer. Pada tahap akhir, seluruh pasukan Israel akan meninggalkan Gaza sepenuhnya.

Seorang pejabat senior Hamas menyatakan bahwa proses negosiasi telah mencapai tahap akhir, dengan pihaknya menunjukkan fleksibilitas terhadap draf kesepakatan. “Pengumuman resmi mengenai gencatan senjata di Gaza hanya tinggal menunggu waktu,” ujarnya.

Dengan situasi yang semakin genting, berbagai pihak kini menunggu apakah kesepakatan gencatan senjata akan segera membawa akhir bagi agresi dan genosida berkepanjangan Israel di Gaza.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *