Kerusuhan Rekayasa Asing di Iran Bangkitkan Gelombang Perlawanan Digital dan Solidaritas Nasional
POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, gelombang kerusuhan yang melanda Teheran dan sejumlah kota lain di Iran dalam beberapa hari terakhir memicu kemarahan luas, baik di dalam negeri maupun di ruang digital global. Insiden yang kini memakan korban jiwa serta menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas umum itu kian dipahami bukan sebagai ekspresi protes rakyat, melainkan sebagai operasi terkoordinasi yang didorong dan disokong kekuatan asing dengan agenda lama yaitu untuk menggoyang Republik Islam dari dalam.
Aksi ini berakar dari demonstrasi damai para pedagang di Grand Bazaar Teheran bulan lalu yang menyuarakan tuntutan ekonomi. Namun, situasi dengan cepat dibajak. Unsur-unsur terorganisasi, bersenjata, dan terlatih menyusup, mengubah protes sipil menjadi kerusuhan brutal. Sasaran mereka bukan hanya aparat keamanan, melainkan juga masjid, toko rakyat, bus umum, dan infrastruktur publik yang menjadi simbol kehidupan sosial bangsa Iran.
Pada Kamis 8 Januari dan Jumat 9 Januari, kekerasan mencapai puncaknya. Kelompok bersenjata menyerang secara membabi-buta, memicu kebakaran dan teror di tengah warga sipil. Media sosial pun dipenuhi reaksi keras. Banyak pengguna secara terbuka menuding keterlibatan Badan Intelijen Amerika Serikat dan Rezim Israel, yang disebut memanfaatkan ketegangan sosial untuk mendorong proyek “perubahan rezim” yang telah lama mereka idamkan.
Kemarahan publik memuncak setelah tersebarnya kabar tewasnya seorang anak perempuan berusia tiga tahun di Rasht, Iran utara, akibat tembakan perusuh bersenjata. “Ini bukan demonstran, mereka teroris”, tulis seorang pengguna, menuding langsung Washington dan Tel Aviv sebagai sponsor kekacauan. Unggahan serupa membanjiri platform X dan media sosial lainnya, memperlihatkan kesadaran kolektif atas pola intervensi asing yang berulang.
Sejumlah analis dan warganet mengaitkan eskalasi ini dengan kekalahan politik dan militer Amerika Serikat serta Israel dalam Perang 12 Hari terakhir melawan Iran. Menurut mereka, kegagalan di medan terbuka kini dibalas melalui perang hibrida yaitu sabotase internal, propaganda, dan teror jalanan.
Akun-akun lain menyoroti dugaan kolaborasi gelap antara Mossad dan kelompok teroris Takfiri. Sindiran pedas bermunculan tentang “aliansi aneh” antara pendukung ISIS, Al-Qaeda, dan Intelijen Israel, sebuah ironi yang justru menyingkap wajah asli proyek destabilisasi tersebut.
Dalam konteks sejarah, banyak pengguna menolak narasi runtuhnya Iran. Mereka mengingatkan bahwa Republik Islam telah berkali-kali menghadapi kerusuhan serupa dan selalu keluar dengan lebih kuat. Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, kembali dikutip luas. Yakni penegasan bahwa para perusuh sejatinya merusak milik bangsanya sendiri demi menyenangkan penguasa asing yang bahkan gagal mengurus krisis di negaranya.
Di tengah kekacauan, rakyat Iran menunjukkan respons sebaliknya yakni persatuan. Pawai besar pasca-Salat Jumat berlangsung di berbagai kota, mengecam kekerasan dan menegaskan penolakan terhadap campur tangan Amerika-Israel. Gambar-gambar massa yang turun ke jalan membela kedaulatan negaranya menyebar luas, termasuk dibagikan oleh pengguna dari luar Iran.
Sementara itu, aparat keamanan Iran dilaporkan telah menangkap sejumlah pelaku yang memiliki hubungan langsung dengan jaringan mata-mata Mossad, mengonfirmasi bahwa kerusuhan ini bukan spontan, melainkan operasi terencana.
Di tengah gempuran propaganda dan teror, pesan yang mengemuka jelas bahwa Iran tidak sendirian. Bangsa ini, dengan pengalaman panjang melawan intervensi asing, kembali menegaskan tekadnya untuk menggagalkan setiap proyek kolonial modern yang menyamar sebagai “dukungan terhadap demokrasi”.
