Kini Eropa Tak Lagi Percaya Amerika
POROS PERLAWANAN — Rencana Donald Trump untuk menghentikan perang Ukraina memantik kegelisahan serius di sejumlah ibu kota Eropa. Para pejabat mengkhawatirkan perubahan tajam kebijakan Washington, yang mereka nilai dapat merombak arsitektur keamanan benua tersebut dan menegaskan satu hal, bahwa Eropa tak lagi bisa bergantung pada Amerika Serikat.
Menurut laporan Tasnim News Agency pada Kamis (28/11), perang yang telah berlangsung nyaris empat tahun itu gagal memberi keuntungan strategis bagi Eropa, bahkan bagi Ukraina sendiri. Bocoran rancangan rencana 28 poin Trump yang mensyaratkan Kiev menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Moskow dengan imbalan jaminan keamanan, langsung mengguncang medan politik Eropa.
Krisis Kepercayaan yang Terbuka
Wakil Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Jerman, Norbert Roettgen, dalam wawancara dengan Financial Times, menyebut publikasi detail rencana Trump sebagai “titik balik” yang membuat Eropa tak dapat lagi mempercayai Washington. Menurutnya, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan Amerika tidak lagi menjadi sekutu yang dapat diandalkan.
“Sejak detail rencana Trump dipublikasikan, atmosfer politik di Jerman terguncang,” ujarnya. Roettgen menilai Eropa harus mengembangkan strategi independen dalam menghadapi konsekuensi krisis Ukraina.
Penolakan Eropa cukup jelas. Bahkan Zelenskyy sendiri menyebut rencana tersebut menempatkan Ukraina dalam posisi dilematis: “memilih antara kehilangan martabat nasional atau kehilangan mitra penting”.
Reaksi yang lebih keras datang dari sejumlah negara Eropa Barat, yang menilai rencana itu terlalu menguntungkan Rusia. Sementara Gedung Putih bersikeras menyebutnya sebagai “kompromi” bagi kedua belah pihak.
Data Dukungan Publik: Amerika Bukan Lagi Sekutu Andal
Hasil berbagai survei mempertegas jarak emosional antara publik Eropa dan Washington. Riset gabungan Data Praxis–YouGov mencatat penurunan drastis popularitas AS sejak Trump kembali berkuasa. Di Denmark, sentimen positif terhadap AS anjlok 20 poin; di Swedia turun 12 poin.
Di Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol, hanya 19 persen warga yang memandang Trump secara positif. Sebagian besar warga Eropa bahkan melihat Presiden AS tersebut sebagai ancaman bagi keamanan benua. Survei Le Grand Continent–Cluster17 menemukan 63 persen responden yakin dunia menjadi “lebih tidak aman” sejak Trump berkuasa.
Mayoritas mutlak, sekitar 70 persen warga Eropa, kini berpendapat bahwa Uni Eropa harus mengandalkan kekuatannya sendiri, bukan Amerika Serikat, untuk menjamin keamanan.
Dunia Baru: Multipolar, Tidak Lagi Amerika-Sentris
Keretakan transatlantik ini muncul seiring merosotnya pengaruh global Washington. The Guardian menggambarkan kondisi ini sebagai “retakan geopolitik pertama yang menandai berakhirnya dominasi global AS”.
Bagi banyak analis, kebangkitan kembali Rusia dan lonjakan kekuatan ekonomi–militer Cina telah membentuk tatanan dunia multipolar. India turut masuk gelanggang persaingan kekuatan besar. Di tengah dinamika baru ini, Eropa menyadari AS tidak lagi memiliki komitmen yang sama seperti era Perang Dunia II atau Perang Dingin.
Pakar Turki, Mahmud Akpinar, menulis bahwa pandangan Trump terhadap NATO sebagai “beban” dan tekanan agar Eropa membayar lebih banyak untuk pertahanannya sendiri memperjelas satu kenyataan: Amerika ingin mengurangi perannya dalam menjaga keamanan Eropa.
Eropa Menyusun Opsi Tanpa Amerika
Ketidakpastian ini membuat Eropa menyiapkan berbagai skenario sekaligus.
1. Lonjakan anggaran militer.
Jerman melakukan pembangunan kembali militernya untuk pertama kali sejak Perang Dunia II. Inggris, Prancis, dan negara Eropa lain juga menaikkan anggaran pertahanan secara agresif.
2. Wacana wajib militer.
Sejumlah negara mempertimbangkan kembali program wajib militer, dipicu minimnya personel di Ukraina serta meningkatnya rasa tidak aman publik Eropa.
3. Rencana pertahanan tanpa AS.
Beberapa pemimpin Eropa mendorong pembentukan pasukan pertahanan bersama di luar mekanisme NATO. Namun kendala kapasitas industri dan waktu membuat pembangunan kekuatan ini diperkirakan memakan waktu puluhan tahun.
Harga Ketergantungan: Krisis Kesejahteraan dan Ancaman Ekstremisme
Laporan Anatolia menyebutkan bahwa investasi besar-besaran untuk memperkuat militer Eropa hampir pasti menekan anggaran kesejahteraan publik. Biaya pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial yang selama 80 tahun menjadi fondasi stabilitas Eropa berpotensi tergerus.
Kemungkinan AS mengurangi komitmennya dalam NATO dapat memicu ketidakstabilan sosial dan mempercepat kebangkitan kelompok sayap kanan ekstrem, yang kini tengah menanjak di sejumlah negara.
Keseimbangan antara kesejahteraan sosial dan keamanan, yang selama puluhan tahun menjadi identitas Eropa sedang mengalami guncangan besar.
Eropa Memasuki Era Baru
Setelah delapan dekade bergantung pada payung keamanan Amerika, Eropa menghadapi masa pasca–hegemoni AS. Masa depan benua kini ditentukan oleh kemampuannya menata ulang strategi keamanan, politik, dan ekonominya di tengah tatanan dunia multipolar.
Transisi ini tidak akan mudah. Namun satu hal sudah jelas, bahwa hubungan transatlantik tak akan kembali seperti dahulu, dan Eropa terpaksa memasuki babak baru dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
