Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Kohesi Sosial dan Solidaritas Nasional Terbentuk Selama perang 12 Hari (9)

POROS PERLAWANAN — Setelah menjelaskan berbagai hal terkait perang 12 hari yang dipaksakan oleh rezim Zionis terhadap Republik Islam, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, ditanya: Bagaimana kohesi sosial dan solidaritas nasional terbentuk selama perang 12 hari, dan bagaimana kita bisa mempertahankannya?

“Ini adalah pertanyaan kunci. Tanpa ragu, pencapaian terbesar dalam perang 12 hari ini adalah keterlibatan rakyat dan keberpihakan mereka secara kolektif. Jika harus dijelaskan secara tegas kepada pihak-pihak yang menginisiasi agresi dengan tujuan menggulingkan, memecah, dan melemahkan Iran, maka harus dipahami bahwa inti kekuatan Republik Islam adalah 90 juta rakyatnya, dan mereka bersatu.

“Hari ini, rakyat Iran tidak terbagi secara ideologis, tetapi terbagi menjadi dua kategori yang saling melengkapi:
1. Patriot.
2. Patriot sekaligus prajurit.

Tidak ada klasifikasi lain. Rakyat Iran melihat Tanah Air dan Islam sebagai satu kesatuan, bukan sebagai dua entitas yang bertentangan. Ini adalah kekuatan sejati kita.

“Kita menyaksikan solidaritas dari semua lapisan masyarakat:
1. Dari penyanyi pop seperti Tuan Chavoshi hingga qari dan rohaniwan seperti Tuan Mahmoud Karimi.
2. Dari otoritas Syiah hingga ulama Sunni, baik dari dalam negeri maupun diaspora.

Bahkan dari mereka yang sebelumnya kritis terhadap sistem, tetapi kini memilih berdiri di sisi Tanah Air.

“Kita menyaksikan munculnya satu parameter baru yang disebut ‘Iran-Check’, yaitu, standar baru penilaian publik: Siapa yang mendukung Iran dan siapa yang tidak. Bahkan dalam komunitas diaspora, meski ada perbedaan pendapat, kini muncul konsensus bahwa siapa pun yang mewawancarai atau mendukung saluran anti-Iran seperti Iran International otomatis kehilangan legitimasi sosial.

“Inilah pencapaian sosial dan psikologis tertinggi dalam konflik ini.. dan mempertahankannya hanya bisa dilakukan dengan cara:
1. Menghormati suara rakyat
2. Memelihara rasa memiliki bersama terhadap Tanah Air
3. Menjaga keadilan sosial dan kepercayaan kolektif terhadap negara.

“Kohesi ini bukan hasil propaganda, melainkan hasil dari kesadaran dan ketulusan rakyat yang tahu kapan waktunya berbeda, dan kapan waktunya bersatu menghadapi ancaman bersama.

“’Iran International’ telah berubah menjadi ‘Israel International’ setelah perang 12 hari. Media ini, yang selama ini mengeklaim berbicara atas nama rakyat Iran, secara nyata menunjukkan keberpihakannya kepada rezim Zionis dan kehilangan legitimasi di mata publik Iran.

“Selama perang, kami menyaksikan solidaritas yang luar biasa. Orang-orang yang sebelumnya tak pernah tampil di media nasional, seperti Bapak Shams al-Waezin, kini angkat suara membela Iran. Sejumlah atlet, termasuk para pemain voli nasional, memberikan penghormatan militer saat berlaga di kejuaraan dunia, tanpa diminta, tanpa dikomando—mereka melakukannya karena panggilan hati.

“Lebih dari 450 tokoh di dalam dan luar negeri menandatangani surat pernyataan membela Iran dan mengecam Israel. Ini merupakan hal yang tidak dimiliki Israel.

“Rapper-rapper Iran juga tampil, bahkan mereka yang sebelumnya bersikap apolitis atau kritis. Mereka berdiri membela Tanah Air dan menyingkirkan suara-suara dari kubu lawan. Bahkan perempuan tanpa jilbab pun menyuarakan dukungan, mengibarkan bendera Iran di media sosial. Seperti yang pernah dikatakan Syahid Qasim Soleimani: ‘Gadis tanpa jilbab ini juga putri saya’. Hari ini, pernyataan itu menjadi kenyataan nasional.

“Pertanyaan besar kami selama 20 tahun terakhir telah terjawab. Bersama para syuhada seperti Kazemi, Mehrabi, Rashid, Rabbani, dan khususnya Haji Qasim, kami sering bertanya: Jika agresi besar terjadi, apakah generasi muda saat ini akan maju seperti generasi tahun 1980-an?

“Kami ragu. Kami mengira hanya sebagian kecil yang akan datang ke garis depan. Namun, hari itu tiba.. dan kami melihat bahwa mereka datang. Bukan sebagian. Melainkan dalam jumlah besar dan dengan tekad penuh. Bahkan saat kami jauh dari rumah, keyakinan bahwa kami sedang membela Tanah Air dan keamanan nasional terbukti menyatu dalam hati rakyat.

“Solidaritas rakyat Iran dalam 12 hari terakhir bukanlah sekadar respons emosional, melainkan konfirmasi kekuatan moral, sosial, dan nasional yang telah lama diasumsikan rapuh. Justru saat tekanan memuncak, semua unsur rakyat — dari beragam latar belakang, keyakinan, gaya hidup — bersatu sebagai satu bangsa.

“Inilah kelebihan strategis Iran yang tidak dimiliki rezim Zionis:
1. Persatuan yang tumbuh dari keyakinan, bukan paksaan
2. Pertahanan yang dipimpin rakyat, bukan hanya militer, dan
3. Tekad yang teruji dalam medan perang nyata.

Pesan kepada Para Syahid dan Bangsa Iran

“Hari ini, saya ingin menyampaikan pesan kepada sahabat-sahabat syahid saya, Syahid Kazemi, Syahid Bagheri: Seandainya kalian hadir di sini, kalian akan menyaksikan bahwa Iran hari ini berdiri lebih kokoh daripada tahun 1979, saat seluruh Timur dan Barat, di bawah kepemimpinan Partai Baath, menyerang bangsa ini.

“Pemuda kita hari ini berdiri lebih kuat daripada pemuda generasi 1980-an, yang kala itu juga merupakan bagian dari masa Pertahanan Suci. Mereka tampil dengan lebih gagah, lebih ikhlas, dan penuh keyakinan.

“Iran masih hidup. Semangat pengorbanan, keksatriaan, dan kesetiaan adalah bagian dari sejarah, budaya, dan keyakinan bangsa ini. Kita menyaksikan rakyat yang, meskipun dalam duka dan keterbatasan, tetap bertahan dan berkhidmat.
Contoh nyata:
– Seorang tukang roti, yang tetap berada di dekat tungkunya meski saudaranya telah gugur, karena tahu rakyat membutuhkan roti.
– Seorang anak kecil, yang membagikan air sirup dan minuman dingin kepada warga yang mengantre bahan bakar.
– Rakyat yang secara sukarela menghemat air dan listrik.

“Persaudaraan, solidaritas, dan ketenangan sosial ini adalah fondasi kekuatan nasional. Perbedaan selera atau keyakinan tidak menjadi penghalang. Karena yang penting adalah keselarasan antara Tanah Air dan Islam, yang utama adalah kemanusiaan yang melawan penindasan dan ketidakadilan, yang juga penting adalah tekad Iran yang kukuh di hadapan musuh.

“Hari ini, kita menyaksikan semua pihak bekerja bersama: Para pengkritik sekalipun, berkumpul di sekitar Pemimpin Tertinggi, yang sejak tahun 1979 telah menjadi Panglima Tertinggi dan hadir langsung di arena perang dalam situasi krusial ini. Beliau memimpin dengan kebijaksanaan, keteguhan, dan keberanian, seperti seorang syahid yang belum gugur.

“Rakyat dari semua kalangan, termasuk ibu hamil dan anak-anak yang menjadi syahid secara tidak adil, turut ambil bagian. Inilah bangsa yang layak dihormati dan dijaga nilainya.

“Saya katakan dengan sepenuh hati: Kami akan menjaga jalan para syuhada dan rakyat kami. Kami bangga mengorbankan diri untuk bangsa seperti ini. Kami siap menyerahkan nyawa kami demi Tanah Air, rakyat, dan budaya ini.
Kami hanya memohon satu hal kepada Allah: Akhir yang baik.” []

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *