Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Krisis Ekonomi Turki dan Tekanan Politik Baru terhadap Erdogan

Krisis Ekonomi Turki dan Tekanan Politik Baru terhadap Erdogan

POROS PERLAWANAN — Krisis ekonomi yang terus membelit Turki pada awal tahun ini kembali membuka ruang ofensif bagi oposisi. Di tengah inflasi tinggi, tekanan biaya hidup, dan ketidakpastian sosial, pemimpin Partai Rakyat Republik (CHP), Ozgur Ozel, muncul sebagai figur oposisi paling vokal dan dominan dalam menantang kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Minggu 11 Januari, Ozel bahkan secara terbuka menyerukan kesiapsiagaan penuh partainya, seolah-olah pemilihan umum akan digelar dalam waktu dekat. Kepada para kader CHP, ia menegaskan bahwa seluruh struktur partai harus bekerja “seakan-akan Pemilu akan berlangsung besok”.

Krisis Ekonomi sebagai Bahan Bakar Oposisi

Memasuki bulan pertama tahun baru, Turki masih bergulat dengan krisis ekonomi yang meluas. Kondisi ini menciptakan atmosfer politik yang tegang dan memberi ruang bagi pidato-pidato oposisi yang semakin keras. Ozel secara terbuka menyatakan bahwa Pemerintah gagal mengatasi persoalan ekonomi dan menyerukan digelarnya pemilihan umum lebih awal.

Narasi oposisi bertumpu pada dua kata berima dalam bahasa Turki: geçim (mata pencaharian) dan seçim (pemilihan umum). Pesan yang disampaikan sederhana: ketika Pemerintah tak lagi mampu menjamin kebutuhan hidup rakyat, maka jalan keluar politik adalah Pemilu.

Di sisi lain, Menteri Keuangan dan Perbendaharaan Turki, Mehmet Şimşek, sebelumnya menjanjikan stabilisasi ekonomi pada pertengahan 2025 serta fase deflasi dan pemulihan pada paruh pertama 2026. Namun, hingga kini, janji tersebut belum terwujud secara nyata, memberi amunisi tambahan bagi oposisi.

Konsolidasi Internal CHP

Dalam pertemuan tertutup selama lima jam di markas besar CHP, Ozel menyampaikan evaluasi menyeluruh mengenai kondisi politik dan ekonomi nasional. Ia meminta para pemimpin cabang di seluruh 81 provinsi untuk mempersiapkan kondisi psikologis publik menghadapi kemungkinan pemilihan umum.

Pengamat politik menilai CHP di bawah kepemimpinan Ozel mengadopsi strategi berlapis. Dalam sistem politik Turki saat ini, di mana peran parlemen semakin terpinggirkan oleh kekuasaan eksekutif, CHP justru mendorong aktivisme para anggota parlemen. Ozel menegaskan bahwa wakil rakyat yang tidak aktif turun ke daerah pemilihannya akan dimintai pertanggungjawaban.

CHP juga dinilai memiliki keunggulan dalam menjangkau pemilih muda, kelompok yang dalam beberapa tahun terakhir semakin menjauh dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Selain itu, partai ini relatif bebas dari beban rekam jejak kegagalan ekonomi yang kini dilekatkan pada AKP, serta memperoleh legitimasi baru melalui kinerja pemerintahan lokal di sejumlah kota besar.

Peta Jajak Pendapat

Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis lembaga riset Gundemar menunjukkan bahwa CHP masih berada di posisi teratas, sementara AKP tetap tertahan di posisi kedua. Survei yang dilakukan di 60 provinsi itu menunjukkan dukungan sebesar 34,30 persen untuk CHP dan 29,72 persen untuk AKP.

Partai-partai nasionalis sayap kanan mencatatkan peningkatan dukungan, sementara CHP mengalami sedikit penurunan dibandingkan survei sebelumnya. Meski demikian, krisis ekonomi masih menjadi faktor utama yang merugikan partai berkuasa.

Hambatan Oposisi dan Manuver Pemerintah

Meski berada di posisi unggul, jalan CHP menuju kekuasaan tidak sepenuhnya mulus. Partai ini masih menghadapi persoalan internal terkait figur kandidat presiden. Mantan Wali Kota Istanbul, Ekrem İmamoğlu dinilai menghadapi hambatan hukum serius, sementara Ozel sendiri belum sepenuhnya diterima oleh seluruh faksi internal sebagai calon alternatif.

Sementara itu, AKP berupaya meredam tekanan politik dengan meluncurkan program-program populis, termasuk proyek pembangunan ratusan ribu unit rumah bagi kelompok berpenghasilan rendah, guna memulihkan dukungan elektoral.

Namun sejauh ini, pidato-pidato Ozel dan kemampuannya menggerakkan basis massa telah berubah menjadi sumber tekanan serius bagi Erdogan dan lingkar inti partai berkuasa. Inilah “mimpi buruk politik” yang dipicu oleh lawan yang memilih menyerang lebih awal, sebelum Pemilu benar-benar tiba.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *