Kudeta Terbaru di Afrika Barat: Militer Benin Umumkan Pembubaran Pemerintahan
POROS PERLAWANAN — Sekelompok tentara Benin pada Minggu 7 Desember mengumumkan melalui pesan video di televisi Pemerintah bahwa mereka telah melakukan kudeta dan menggulingkan Pemerintahan yang berkuasa.
Menurut laporan IRNA pada Minggu 7 Desember, mengutip Al Jazeera, kelompok ini menamakan diri “Komite Militer untuk Rekonstruksi”, mengumumkan bahwa Presiden Patrice Talon dan seluruh lembaga Pemerintahan telah dicopot dari kekuasaan.
Militer menambahkan bahwa Kolonel Pascal Tigri telah mengambil alih kepemimpinan negara sebagai ketua komite tersebut.
Kedutaan Besar Prancis di Benin juga merilis pernyataan yang melaporkan adanya insiden tembakan di Kamp Guezou, dekat kediaman presiden. Kedutaan mengimbau warga agar tetap berada di rumah hingga situasi keamanan sepenuhnya jelas.
Patrice Talon, mantan pengusaha kapas, telah menjabat sebagai Presiden sejak 2016 dan memenangkan masa jabatan kedua pada 2021. Ia dijadwalkan lengser pada April tahun depan setelah pemilihan umum.
Benin dan Peta Politik Afrika Barat
“Kudeta ini tidak mengejutkan siapa pun,” ujar mantan Direktur Komunikasi ECOWAS, Adama Gaye kepada Al Jazeera.
Ia menjelaskan bahwa situasi politik Benin telah lama tegang dan sejumlah oposisi telah dipenjara.
Insiden ini menjadi kudeta militer terbaru di Afrika Barat, setelah kudeta di Guinea-Bissau pada Rabu, 25 Desember 2024.
Benin, negara berpenduduk sekitar 14 juta jiwa dengan luas wilayah 114.763 kilometer persegi, kini menambah daftar negara Afrika Barat yang mengalami instabilitas politik dalam beberapa tahun terakhir.
