Kuwait Dihantam Drone, Pertahanan Udara Diaktifkan di Tengah Eskalasi Iran-AS
POROS PERLAWANAN – Militer Kuwait mengumumkan telah mengaktifkan sistem pertahanan udaranya untuk menghadapi dugaan serangan pesawat nirawak yang disebut berasal dari Iran. Pengumuman tersebut disampaikan di tengah klaim Iran yang menyatakan telah menyerang sejumlah fasilitas Militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain dalam tahap kesepuluh Operasi Sa’eqah.
Mengutip Al Jazeera pada Jumat 17 Juli, Angkatan Bersenjata Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara dikerahkan untuk mencegat apa yang disebut sebagai “drone bermusuhan”. Operasi intersepsi dilaporkan masih berlangsung, sementara sejumlah ledakan terdengar di beberapa wilayah Kuwait. Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai hasil operasi maupun tingkat kerusakan yang terjadi.
Beberapa jam sebelumnya, Humas Angkatan Darat Iran mengumumkan bahwa drone Arash menargetkan sistem radar, baterai pertahanan udara Patriot, dan fasilitas pendukung Militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait. Dalam gelombang operasi yang sama, Iran juga mengeklaim menyerang Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain dengan sasaran sistem komunikasi, radar Super Hawk, jaringan pertahanan udara Patriot, serta fasilitas pendukung operasi udara Amerika Serikat.
Rangkaian serangan tersebut menunjukkan meluasnya konfrontasi Iran-Amerika Serikat ke jaringan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Pola sasaran Iran juga memperlihatkan fokus pada radar, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur pendukung operasi sebagai pusat kendali ancaman, bukan hanya aset tempur.
Menurut IRNA, Amerika Serikat kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran sejak 7 Juli 2026, yang oleh Teheran disebut sebagai pelanggaran terhadap Nota Kesepahaman Islamabad. Presiden AS, Donald Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir, sehingga kembali memicu meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Dalam perkembangan terpisah, Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami Nia menegaskan bahwa penguasaan Selat Hormuz tetap menjadi bagian dari strategi pertahanan Iran. Ia juga menilai negara-negara yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat kini harus menanggung konsekuensi keamanan dan ekonomi, seraya menegaskan bahwa stabilitas Kawasan hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama negara-negara regional tanpa campur tangan kekuatan asing.
