Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Larijani: Jangkauan Rudal-rudal Iran Bukan Urusan Barat

Larijani: Jangkauan Rudal-rudal Iran Bukan Urusan Barat

POROS PERLAWANAN – Saat berpidato dalam konferensi “Kita dan Barat dalam Pemikiran Pemimpin Tertinggi”, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani menyatakan bahwa memahami hubungan Iran dengan Barat memerlukan analisis terhadap pendekatan Barat, yang seringkali mengejar perdamaian melalui kekuatan. Ia mengkritik tindakan historis Barat, dengan mengatakan bahwa hasil dari rasionalisme Barat adalah perang global, dan perkembangan saat ini mencerminkan apa yang ia gambarkan sebagai periode ketidakstabilan.

Diberitakan Mehr, Larijani membagi hubungan Iran-Barat menjadi lima periode historis: pada zaman kuno, Iran merupakan kekuatan dominan, mempertahankan kemerdekaannya dari Barat, dan memengaruhi pemikiran filosofis Yunani. Pada era Safavi, ketergantungan Iran pada ilmu pengetahuan, agama, dan pemikiran intelektual memungkinkan negara tersebut untuk menyeimbangkan kekuatan melawan negara-negara Barat. Namun, ia mencatat bahwa pada masa Qajar, Iran menjadi sangat bergantung pada kekuatan lain karena keinginan penguasa untuk mempertahankan kekuasaan. Ketergantungan ini semakin parah di bawah dinasti Pahlevi, ketika Iran kehilangan kemerdekaannya, dan kekuatan Barat seperti AS dan Inggris mengendalikan struktur politik, ekonomi, dan budaya negara tersebut. Ia mengutip kudeta 1953 sebagai contoh dominasi Barat.

Larijani memuji para pemimpin Revolusi Islam, termasuk Imam Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei, atas upaya mereka memulihkan martabat Iran melalui ilmu pengetahuan dan agama. Ia menekankan bahwa pasca-Revolusi, Iran memprioritaskan kepentingan nasional di atas kerja sama tanpa syarat dengan Barat, sambil tetap menjalin kerja sama ekonomi dengan mitra Barat.

Pejabat Iran tersebut menjelaskan bahwa kepemimpinan Iran tidak menentang kerja sama ekonomi dengan Barat, tetapi menolak campur tangan Barat dalam program rudal atau kemampuan nuklir. Ia juga menekankan bahwa Iran menentang agresi budaya, sejalan dengan sikap Pemimpin Tertinggi dalam menentang upaya dominasi budaya.

Larijani menekankan bahwa saat ini jelas bahwa isu nuklir bukanlah masalah sebenarnya, melainkan hanya dalih untuk permusuhan. “Sekarang mereka membicarakan rudal dan jangkauannya, serta peran regional Iran. Tetapi mengapa hal itu harus menjadi urusan mereka? Pendekatan ini menunjukkan bahwa AS dan Barat mencari hegemoni.”

Dia membandingkan dua pendekatan dalam hubungan internasional: satu yang mengejar kekuasaan dan dominasi, bahkan terhadap kekuatan-kekuatan di Timur seperti China, dan yang lain yang mencari hubungan yang seimbang dan adil. “Iran bukanlah negara yang mendominasi maupun negara yang menyerah pada ancaman kosong,” tegas Larijani.

Berbicara tentang dampak serangan Israel, Larijani mengatakan, “Rakyat dan Angkatan Bersenjata berdiri teguh melawan agresi brutal rezim Israel dan membalikkan keadaan. Dalam sejarah, belum pernah Israel begitu dibenci oleh dunia seperti sekarang. Hari ini, kebencian global terhadap AS telah meningkat ribuan kali lipat.”

Dia menekankan bahwa satu-satunya jalan menuju kemenangan melawan ancaman semacam itu adalah melalui persatuan nasional.

Menanggapi seruan AS untuk bernegosiasi, Larijani bertanya, “Bukankah Iran sudah terlibat dalam pembicaraan? Lalu mengapa Presiden AS mengkhianati Iran selama negosiasi dan menyerang? Kini Trump dengan tanpa malu-malu mengakui bahwa dia memainkan peran kunci dalam serangan tersebut.”

Dia menyoroti bahwa tiga hari pertama konflik sangat kritis, tetapi bimbingan strategis Ayatullah Khamenei, kontak langsung dengan komandan lapangan, dan perhatian terhadap kebutuhan rakyat, telah mengubah jalannya perang.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *