Lonceng Bahaya Aktivasi ISIS di Suriah Telah Berbunyi
POROS PERLAWANAN – Perkembangan terbaru di wilayah timur laut Suriah, yang sejak Minggu malam 18 Januari disertai dengan publikasi rincian kesepakatan antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan Pemerintah pusat Damaskus yang dipimpin oleh al-Jolani, serta pelarian ratusan anggota ISIS dari penjara SDF, telah menimbulkan tantangan keamanan baru bagi Pemerintah pusat Irak.
Tasnim memberitakan, kemajuan pasukan Suriah di timur laut Suriah dan dikuasainya sebagian besar wilayah oleh Pemerintah pusat Damaskus, yang sebelumnya dikuasai oleh Pasukan Demokratik Suriah, telah kembali menimbulkan kekhawatiran tentang nasib ribuan tahanan ISIS, yang sebelumnya ditahan di pusat penahanan SDF di dekat perbatasan Suriah-Irak. Sebab, individu-individu itu kini dapat melarikan diri dan berpotensi menghidupkan kembali sel-sel teroris ISIS di Suriah dan Iraq.
Data menunjukkan, terdapat setidaknya 50.000 tahanan teroris di pusat penahanan yang dikelola SDF. Ada klaian bahwa setidaknya 12.000 di antaranya adalah anggota ISIS. Namun, dalam praktiknya, tidak ada angka pasti mengenai jumlah tahanan berisiko tinggi ini.
Sebagian besar teroris ISIS ditahan di penjara SDF di wilayah al-Shaddadi dan al-Baghouz. Kedua wilayah ini termasuk di antara lokasi yang hingga saat ini belum dimasuki oleh pasukan Pemerintah pusat Suriah. Faktanya, kemajuan pasukan Suriah di wilayah-wilayah tersebut hanya terjadi di kedua sisi Sungai Eufrat dan belum menembus jauh ke wilayah yang dikuasai SDF di bagian timur laut Suriah.
Akibatnya, dalam situasi saat ini, pusat penahanan al-Tanf dan kamp pengungsi al-Haul tetap berada di bawah kendali pasukan SDF. Namun, ribuan teroris yang ditahan di fasilitas-fasilitas tersebut berpotensi melarikan diri dalam waktu dekat. Jika hal ini terjadi, skenario tersebut dapat menjadi bom waktu yang mengancam keamanan Irak, Suriah, dan negara-negara lain di Kawasan.
Signifikansi perkembangan ini terletak pada fakta bahwa menurut statistik, jumlah anggota ISIS yang ditahan di pusat-pusat penahanan ini setidaknya empat kali lipat lebih besar daripada total gabungan sel-sel teroris aktif lainnya di Irak dan Suriah, yang jumlahnya diperkirakan antara tiga hingga empat ribu.
Pembebasan sejumlah teroris ini saja sudah enam kali lipat dari jumlah teroris aktif di Irak, yang menurut perkiraan keamanan melebihi sepuluh ribu orang.
Jatuhnya wilayah yang dikuasai SDF di sepanjang Sungai Eufrat di utara telah memicu kekhawatiran bagi pejabat tinggi keamanan dan militer Irak terkait perkembangan berbahaya di perbatasan barat negara tersebut. Sadar bahwa kelemahan atau kurangnya pengawasan lapangan dan administratif di wilayah-wilayah tersebut dapat menyebabkan kebangkitan kembali sel-sel teroris, terutama ISIS, Otoritas Irak telah menerapkan langkah-langkah khusus dalam hal ini sejak semalam.
Seiring dengan perkembangan di wilayah timur laut Suriah, sejak dini hari kemarin al-Hashd al-Shaabi yang beroperasi di bawah komando “Al-Rafidin” telah dikerahkan ke wilayah perbatasan Irak-Suriah untuk mengambil alih tanggung jawab dalam menerapkan langkah-langkah keamanan preventif dan mengendalikan wilayah tersebut.
Secara bersamaan, Ruang Operasi Rafidin, bekerja sama dengan Divisi ke-10 al-Hashd al-Shaabi, telah mendistribusikan peralatan militer ke wilayah perbatasan barat Irak dan menempatkannya secara luas di kawasan tersebut. Tujuannya adalah mencegah masuknya sel-sel teroris dari wilayah Suriah ke dalam wilayah Irak.
