Maariv: Israel Berperang Tanpa Tujuan dan Kehilangan Arah di Lebanon
POROS PERLAWANAN – Analis militer Israel dari surat kabar Maariv, Avi Ashkenazi, mengungkapkan bahwa “Israel tidak memiliki tujuan yang jelas untuk menentukan apa yang diinginkan dari perang di Lebanon, dan kini Israel mulai mundur secara perlahan seiring berjalannya waktu, dibandingkan dengan awal perang”.
Ashkenazi menyatakan hal tersebut pada Jumat 15 November, seraya menyoroti ketidakjelasan arah Israel dalam konflik ini, di tengah pembahasan “kesepakatan potensial dengan Lebanon”. Menurutnya, “Israel memulai perang di Lebanon dengan baik secara militer, dengan tujuan yang jelas. Namun, perlahan-lahan, kami justru mundur.”
Ia menjelaskan bahwa Israel tidak memiliki kesinambungan dalam operasi militernya. “Tidak ada kekuatan besar atau tujuan yang jelas tentang apa yang ingin kami capai.” Ia menambahkan, “Hal ini sangat mengkhawatirkan. Kami harus menentukan apa yang kami inginkan dari tentara, baik di Lebanon maupun di Gaza.”
Ashkenazi juga menekankan pentingnya adanya kesepakatan, tetapi dengan syarat-syarat yang menguntungkan Israel. Ia menyebut Resolusi 1701 PBB sebagai “kesepakatan yang masuk akal”, tetapi menyayangkan bahwa Israel tidak menerapkannya secara nyata.
Ia juga menyebut Israel saat ini menginginkan jaminan agar dapat terus mempertahankan diri, yang menurutnya telah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat. Selain itu, ia menilai Israel harus mendesak sejumlah prinsip, termasuk “tanggung jawab Pemerintah Lebanon atas situasi di perbatasan”.
Ketidakjelasan tujuan Israel ini juga berdampak pada warga pemukim di wilayah utara. Menurut laporan Channel 12 Israel, para pemukim tersebut “lelah dengan situasi tersebut karena tidak ada yang menjelaskan realitas sebenarnya kepada mereka”.
Saluran berita itu melaporkan, “Kami sudah mendengar laporan tentang kemungkinan kesepakatan dengan Lebanon selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Namun, jika Anda datang ke Nahariya atau Galilea Hulu dan Barat, Anda akan melihat tidak ada rutinitas kehidupan. Setiap hari ada sirene dan tembakan.”
Dalam laporan terkait, mantan Komandan Pertahanan Udara Israel, Brigadir Jenderal Cadangan Tzvika Haimovich mengatakan kepada Channel 12 bahwa Hizbullah kini telah “menormalkan” situasi dengan menembaki wilayah utara Israel dua hingga tiga kali sehari, sementara jutaan warga pemukim harus berlindung di tempat-tempat aman.
Menanggapi situasi ini, surat kabar The Wall Street Journal melaporkan kekhawatiran pejabat keamanan Israel bahwa eskalasi operasi militer di Lebanon dapat memicu perang berkepanjangan.
Para pejabat tersebut menilai bahwa langkah Israel untuk menyerang lebih dalam ke Lebanon demi menekan Hizbullah terkait kesepakatan adalah “langkah yang sangat berisiko”.
Surat kabar itu juga mengutip pernyataan mantan Kepala Intelijen Militer Israel, yang mengatakan, “Kita kehilangan peluang untuk memanfaatkan pencapaian kita melawan Hizbullah.”
Selain itu, laporan tersebut menyebutkan, “Pendudukan Israel kini mulai menyadari bahwa tujuan perang untuk mengembalikan warga pemukim di wilayah utara telah meluas hingga mencakup penduduk Haifa dan sekitarnya.”
