Malam Keempat Kerusuhan di AS: Kekacauan Menyebar ke 9 Kota Besar, 4.000 Pasukan Dikerahkan
POROS PERLAWANAN – Terlepas dari tindakan keras aparat keamanan, gelombang protes meluas dari Los Angeles ke sedikitnya sembilan kota besar lainnya di Amerika Serikat. Dalam respons yang dinilai represif, Presiden Donald Trump memerintahkan pengerahan tambahan 2.000 pasukan Garda Nasional, meningkatkan total kekuatan yang dikerahkan menjadi 4.000 personel.
Kebijakan imigrasi yang dianggap brutal dan diskriminatif, serta retorika panas Trump pekan lalu, memicu gelombang kemarahan yang menyebar dengan cepat. Los Angeles kini digambarkan dalam laporan media sebagai “zona apokaliptik”. Dalam empat malam berturut-turut, bendera Amerika dibakar, puluhan kendaraan polisi dan mobil otonom dirusak atau dibakar, dan penjarahan massif terjadi di berbagai pusat perbelanjaan.
Menurut laporan Surat Kabar Kayhan pada Rabu 11 Juni, dan jejaring sosial, aksi protes telah berubah menjadi kekacauan skala besar: properti publik dihancurkan, mobil dibakar, dan bentrokan fisik terjadi di berbagai titik. Puluhan pengunjuk rasa dilaporkan telah ditahan dan dikirim ke pusat-pusat penahanan.
Penyebaran Protes Meluas
Kerusuhan tidak lagi terbatas di California. Menurut laporan ISNA yang mengutip media lokal AS, aksi serupa pecah di New York, Philadelphia, San Francisco, Dallas, dan Austin, mengindikasikan penyebaran amarah publik yang meluas. Di Texas, penangkapan brutal oleh aparat dan kekerasan terhadap demonstran semakin memperkeruh situasi. Otoritas Texas menyatakan protes sebagai “pertemuan ilegal” dan mengancam dengan lebih banyak penangkapan.
Di New York, puluhan pengunjuk rasa melakukan aksi duduk di lobi Trump Tower, meneriakkan seruan “Bawa mereka kembali!”, merujuk pada deportasi massal yang dilakukan oleh Imigrasi dan Bea Cukai AS terhadap warga El Salvador. Video di media sosial menunjukkan polisi New York memborgol para demonstran dengan plastik dan menggiring mereka keluar gedung.
Jaksa Agung AS, Pam Bundy mengatakan kepada Fox News bahwa Pemerintah akan menggunakan dakwaan gangguan sipil untuk mengadili para penyerang aparat dan juga akan menjatuhkan dakwaan Federal terhadap pelaku penjarahan.
Jurnalis Jadi Target
Dalam perkembangan yang mengkhawatirkan, jurnalis juga menjadi sasaran kekerasan aparat. Seorang reporter Australia tertembak peluru karet saat siaran langsung. Koresponden CNN Jason Carroll ditahan sementara oleh polisi Los Angeles. Dua anggota kru kameranya juga ditangkap.
Garda Nasional Gagal, Marinir Dikerahkan
Kegagalan Garda Nasional mengendalikan situasi di Los Angeles membuat Trump menaikkan eskalasi. Lebih dari 700 personel Marinir dikerahkan, menandai pergeseran menuju pendekatan militer penuh terhadap demonstrasi sipil.
Menurut Reuters, pengerahan Marinir diumumkan pada hari keempat protes. Trump menyatakan bahwa “tidak ada pilihan lain” untuk menghentikan kekerasan yang semakin tak terkendali. Bahkan, ia mendukung usulan pejabat imigrasi Tom Homan untuk menangkap Gubernur California Gavin Newsom, yang dianggap menghalangi kebijakan Federal.
California Menggugat Trump
Negara Bagian California langsung bereaksi dengan menggugat Pemerintahan Trump. Jaksa Agung California menyebut pengerahan pasukan sebagai “provokasi yang tidak berdasar” dan pelanggaran terhadap Amandemen Kesepuluh Konstitusi AS.
Dalam konferensi pers virtual, ia menyebut pengerahan Marinir sebagai “penyalahgunaan kekuasaan yang terang-terangan”. Gubernur California menyebut langkah Trump sebagai “drama politik militer” dan menegaskan akan mengambil jalur hukum untuk menghentikan penempatan pasukan.
Penggunaan militer untuk kepolisian domestik dinilai sebagai tindakan ekstrem. Seorang pejabat AS menyebut bahwa meskipun Riot Act belum diaktifkan, langkah Trump mengingatkan pada kerusuhan pada 1992 pascakasus Rodney King, kerusuhan yang menewaskan lebih dari 50 orang dan menyebabkan kerugian lebih dari satu miliar Dolar.
Trump Mundur Setengah Hati
Meski sebelumnya menyebut para pengunjuk rasa sebagai “perusuh profesional”, Trump kemudian mengendurkan retorikanya. Dalam diskusi dengan pemimpin bisnis di Gedung Putih, ia menyatakan, “Saya tidak akan menyebutnya kerusuhan, tapi situasinya serius.” Pernyataannya disampaikan hanya beberapa jam setelah sebelumnya menyudutkan para pengunjuk rasa di hadapan pers.
Los Angeles, Kota Dunia Ketiga?
Kecaman tajam datang dari Gedung Putih. Seorang pejabat senior menyebut Los Angeles “telah menyerupai negara Dunia Ketiga” dan menuduh Gubernur Negara Bagian California “menyerahkan kota kepada para perusuh”. Retorika ini memperlihatkan bahwa alih-alih menenangkan, Pemerintah Federal justru menyalakan kembali bara api konflik dengan narasi hiper-nasionalistik dan penghinaan terhadap warganya sendiri.
