Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Mantan Intelijen Inggris: Iran Unggul dan Tidak Terintimidasi Kehadiran Kapal Induk AS

POROS PERLAWANAN — Mantan diplomat Inggris dan eks pejabat Intelijen MI6, Alastair Crook menilai posisi Iran dalam menghadapi tekanan Militer Amerika Serikat berada pada titik yang lebih kuat dibanding narasi yang berkembang di Barat. Kehadiran armada laut AS di Kawasan dinilai tidak cukup memberi tekanan strategis terhadap Teheran, terutama setelah perubahan sistem pertahanan dan dukungan teknologi militer yang diterima Iran.

Mengutip laporan Kayhan pada Selasa 17 Februari, Crook menyampaikan kemenangan cepat atas Iran sulit dicapai. Warga Iran disebut tidak menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kehadiran kapal perang Amerika. Pengalaman di Yaman menjadi contoh penting, ketika rudal yang diluncurkan dari wilayah tersebut memaksa kapal Amerika menjauh hingga sekitar 1.000 kilometer demi mengurangi risiko serangan.

“Iran tidak terlalu khawatir terhadap pergerakan armada Amerika. Mereka memahami kapal-kapal itu tidak bisa mendekat karena ancaman rudal anti-kapal di sepanjang pantai,” kata Crook dalam percakapan dengan Kolonel Amerika, Daniel Davis.

Crook menilai dinamika politik di Washington dan Tel Aviv turut membentuk kalkulasi militer terhadap Iran. Ia menyinggung sikap Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu yang mendorong kebebasan tindakan militer, termasuk jika kesepakatan nuklir tidak mencakup isu persenjataan.

Menurut Crook, Presiden Amerika, Donald Trump menghadapi dilema besar. Upaya mencari serangan cepat dinilai tidak realistis dalam konteks Iran.

“Trump menginginkan operasi singkat tanpa konflik berkepanjangan. Namun penilaian dari Israel dan timnya sendiri menunjukkan tidak ada opsi seperti itu,” ujarnya.

Ia memandang konflik terbuka dengan Iran berpotensi berlangsung lama dan kompleks. Model perang singkat yang selama ini menjadi preferensi Washington sulit diterapkan karena struktur pertahanan, kondisi geografis, serta kesiapan Iran menghadapi konflik jangka panjang.

Crook juga menyinggung dukungan teknologi militer yang diterima Iran dari mitra internasional. Bantuan tersebut tidak selalu terlihat secara terbuka, namun berdampak pada peningkatan kemampuan deteksi dan koordinasi tempur.

“China telah menyediakan sistem radar jarak jauh yang mampu mendeteksi pesawat siluman hingga ratusan kilometer. Ini menjadi pengubah keseimbangan di udara,” katanya.

Sistem tersebut diklaim mampu mendeteksi pesawat generasi baru dan meningkatkan efektivitas pertahanan udara Iran. Selain radar, Iran juga disebut beralih dari sistem navigasi berbasis GPS menuju sistem satelit alternatif Beidou yang dikembangkan China.

Perubahan itu memperkuat integrasi jaringan militer Iran, mulai dari radar, pusat komando, hingga sistem komunikasi tempur.

“Yang diberikan bukan hanya rudal atau perangkat pertahanan udara, melainkan jaringan data militer tingkat tinggi. Integrasi ini menghubungkan radar, pusat komando, hingga sistem komunikasi,” kata Crook.

Ia membandingkan sistem tersebut dengan jaringan militer Pakistan yang mengintegrasikan sensor, komunikasi, dan komando dalam satu sistem operasional.

Crook menilai keterlibatan China bersifat strategis dan tidak dilakukan melalui pengerahan pasukan. Kepentingan utama berkaitan dengan keamanan jalur energi global.

“Tiongkok tidak akan mengirim pasukan atau menembakkan rudal. Namun kepentingan pasokan energi membuat mereka menjaga stabilitas jalur pelayaran,” ujarnya.

Iran disebut memahami dampak geopolitik dari potensi konflik di Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi nadi distribusi energi global, sehingga gangguan kecil berpotensi memicu gejolak pasar internasional.

“Iran mengetahui konsekuensi konflik di Selat Hormuz. Dampaknya menyentuh ekonomi, pasar saham, dan stabilitas global,” kata Crook.

Ia menambahkan keberadaan rudal anti-kapal di sepanjang pesisir Iran menjadi faktor pencegah utama bagi armada Amerika untuk mendekat. Kapal perang AS cenderung bertahan di Laut Arab demi menghindari risiko serangan langsung.

Pengalaman serangan rudal di Yaman memperlihatkan risiko nyata bagi kapal militer di Kawasan. Serangan tersebut memaksa perubahan posisi armada untuk menjaga jarak aman dari jangkauan rudal.

Crook memandang Iran memanfaatkan kombinasi geografi, teknologi, dan strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi. Keunggulan tidak hanya diukur dari jumlah kapal atau kekuatan udara, tetapi dari kemampuan membaca konflik dan mengendalikan ruang operasi.

Ia juga menilai konflik dengan Iran berpotensi memicu dampak ekonomi luas bagi Amerika Serikat. Stabilitas pasar, peringkat ekonomi, hingga dinamika politik domestik dapat terdampak jika konflik berkembang.

“Pertanyaan besar bagi Washington bukan hanya militer. Dampak terhadap ekonomi, pasar, dan stabilitas domestik menjadi pertimbangan serius jika konflik terjadi,” ujarnya.

Analisis Crook menegaskan perubahan peta kekuatan di Timur Tengah. Teknologi radar, jaringan data militer, posisi geografis, serta kontrol jalur energi menjadi faktor penentu baru dalam strategi pertahanan Kawasan.

Persaingan tidak lagi bergantung pada dominasi armada semata. Integrasi teknologi, kemampuan bertahan jangka panjang, dan kalkulasi geopolitik membentuk keseimbangan baru dalam keamanan regional dan global.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *