Mantan Kepala Pusat Kontra-Terorisme AS Kembali Beberkan Fakta Soal Perang Iran
POROS PERLAWANAN – Joe Kent, yang mengundurkan diri dari jabatannya di Pemerintahan Donald Trump akibat perbedaan pendapat mengenai perang melawan Iran, mengungkap fakta baru pada Kamis 7 Mei terkait alasan dimulainya perang tersebut.
Fars melaporkan, mantan Kepala Pusat Kontra-Terorisme Nasional AS itudalam pernyataan kontroversial mengungkapkan, Trump memulai perang tersebut mengan mengabaikan informasi-informasi intelijen.
Dia mengatakan bahwa komunitas intelijen AS, termasuk CIA, telah menyimpulkan sebelum perang dimulai bahwa Teheran tidak secara aktif mengejar senjata nuklir dan akan menutup Selat Hormuz jika terjadi serangan oleh Israel dan AS.
Kent, yang mengundurkan diri pada bulan Maret sebagai bentuk protes terhadap kebijakan perang Pemerintahan Trump, dalam sebuah postingan di platform media sosial X pada hari Kamis menulis: “Salah satu tragedi terbesar dari perang ini adalah bahwa sebelum konflik dimulai, semua Badan Intelijen AS sepakat bahwa Iran tidak sedang mengupayakan bom atom. Mereka juga telah memperingatkan bahwa jika terjadi serangan gabungan oleh Israel dan AS, Iran akan menargetkan pangkalan-pangkalan kita di Kawasan dan menutup Selat Hormuz.”
Mantan pejabat keamanan itu menekankan, Badan-badan Intelijen telah menilai dengan tepat bahwa menargetkan para pemimpin Iran bukna hanya tidak akan berhasil menggulingkan Pemerintah Iran, tetapi justru akan memperkuatnya.
“Terlepas dari keakuratan dan profesionalisme komunitas intelijen, narasi dan agenda yang ditentukan oleh pemerintah asing, yaitu Israel-lah yang menang dan menyeret kita ke dalam perang ini. Kita harus memahami dengan tepat bagaimana hal ini bisa terjadi agar kita tidak pernah lagi berada dalam posisi seperti ini,” kata Kent.
Gedung Putih segera menolak pernyataan Kent. Jubir Pemerintah AS, Davis Ingle, mengatakan kepada Fox News bahwa Kent “menyebarkan kebohongan.”
“Klaim bahwa ‘negara sponsor terorisme’ terbesar di dunia bukanlah ancaman bagi AS, dan bahwa Israel memaksa Presiden untuk meluncurkan Operasi ‘Epic Fury’ adalah hal yang keterlaluan. Presiden Trump mengambil tindakan tegas berdasarkan bukti kuat bahwa rezim teroris Iran siap menyerang warga Amerika.”
Kent mengundurkan diri pada bulan Maret karena ketidaksepakatannya mengenai perang dengan Iran. Dalam surat pengunduran dirinya, ia mengkritik keputusan AS untuk berperang. Ia berulang kali menekankan bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman mendesak bagi Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut menuai reaksi keras dari Trump dan para pendukung Partai Republiknya. Saat itu Kent mengatakan,“Saya tidak bisa dengan hati nurani yang bersih mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman mendesak bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat.”
