Mantan Perwira CIA: AS Harus Mengakui Realitas Baru Kekuatan Iran
POROS PERLAWANAN – Mengutip laporan Farsnews Agency pada Kamis 4 Juni, mantan perwira Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Larry C. Johnson menyatakan bahwa Washington mulai mengubah perhitungan strategisnya terhadap Iran setelah meyakini Teheran memiliki kapasitas nuklir dan kemampuan pertahanan yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Menurutnya, perubahan kalkulasi tersebut tecermin dari sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang kini dinilai lebih berhati-hati dalam berbicara mengenai Iran.
Johnson mengatakan pejabat Amerika memperoleh sejumlah informasi melalui jalur diplomatik antara Teheran dan Islamabad serta berbagai pemantauan intelijen yang mengarah pada kesimpulan bahwa Iran sangat serius dalam mempertahankan kemampuan nuklirnya. Temuan tersebut, menurutnya, mendorong peninjauan ulang terhadap perkiraan Washington mengenai daya tangkal strategis Iran.
Ia menilai laporan mengenai cadangan uranium yang telah diperkaya, keberadaan fasilitas bawah tanah yang sangat dalam, serta keterbatasan Barat dalam memetakan seluruh infrastruktur nuklir Iran telah meningkatkan ketidakpastian di kalangan pembuat kebijakan Amerika.
Menurut Johnson, salah satu indikator paling jelas dari perubahan perhitungan tersebut adalah pergeseran nada bicara Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya Trump kerap berbicara mengenai penghancuran Iran, peningkatan serangan, dan Tekanan Maksimum, kini retorika itu dinilai jauh lebih moderat.
Trump, kata Johnson, mulai menggunakan bahasa yang lebih hati-hati ketika membahas Iran, tetap membuka peluang diplomasi, dan tidak lagi menonjolkan ancaman militer secara terbuka seperti sebelumnya. Perubahan itu diyakini bukan sekadar taktik politik, melainkan cerminan meningkatnya kekhawatiran Washington terhadap risiko konfrontasi langsung dengan Teheran.
“Perubahan nada Trump hampir pasti terjadi karena adanya kekuatan besar yang harus diperhitungkan di Iran,” ujar Johnson.
Dalam penilaiannya, Washington mulai menyadari bahwa Iran mungkin telah mencapai tingkat kemampuan pencegahan yang membuat opsi eskalasi militer menjadi semakin berisiko. Karena itu, perubahan sikap Trump dipandang sebagai upaya menghindari masuknya krisis ke tahap yang lebih berbahaya.
Johnson juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai salah satu kegagalan intelijen terbesar Amerika Serikat dan Israel dalam dua dekade terakhir, yakni ketidakmampuan memperkirakan secara akurat kedalaman dan luasnya fasilitas bawah tanah Iran.
Menurutnya, setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003, Teheran mulai mengembangkan proyek besar untuk memindahkan berbagai aset strategis, fasilitas militer, dan infrastruktur sensitif ke lokasi bawah tanah yang lebih aman sebagai antisipasi terhadap kemungkinan ancaman militer.
Berdasarkan pengalamannya di komunitas intelijen Amerika, Johnson meyakini Barat hingga kini belum memiliki gambaran utuh mengenai jaringan fasilitas bawah tanah Iran. Kondisi tersebut membuat penilaian mengenai lokasi penyimpanan uranium yang diperkaya maupun kapasitas riil program nuklir Iran masih diliputi ketidakpastian.
Ia menambahkan bahwa persoalan utama bukan hanya keberadaan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi, melainkan ketidakjelasan mengenai lokasi penyimpanannya. Bahkan, menurutnya, belum ada kepastian apakah bom penghancur bunker milik Amerika mampu menjangkau seluruh fasilitas yang diduga berada jauh di bawah permukaan tanah.
Ketidakpastian tersebut, kata dia, telah meningkatkan kekhawatiran Washington terhadap potensi kemampuan nuklir Iran dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Tentang hubungan Amerika Serikat dan Israel, Johnson menilai terdapat perbedaan pendekatan taktis mengenai cara menghadapi Iran. Meski demikian, tujuan umum kedua negara tetap sama, yakni membatasi pengaruh dan kemampuan strategis Teheran.
Ia menyebut sejumlah laporan menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Trump dan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu mengenai waktu dan metode yang tepat untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran. Beberapa kelompok di sekitar Trump yang lebih mendukung jalur diplomasi juga disebut berupaya mencegah meluasnya konflik.
Menurut Johnson, perbedaan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap biaya perang, kerentanan pasukan serta pangkalan Amerika di Kawasan, dan dampak ekonomi maupun politik yang dapat timbul dari konflik yang lebih luas.
Ia menilai Israel tetap mendorong Tekanan Maksimum terhadap Iran, sementara Washington harus menyeimbangkan dukungan kepada sekutunya dengan kebutuhan menghindari perang regional yang berbiaya tinggi.
Karena itu, sejumlah perkembangan seperti penundaan operasi militer, meningkatnya komunikasi diplomatik, dan perubahan retorika Trump dinilai sebagai upaya Amerika Serikat untuk menghindari konsekuensi besar yang dapat ditanggung Pemerintah maupun masyarakat Amerika apabila konflik dengan Iran terus meluas.
Dalam bagian akhir wawancara, Johnson menilai dunia sedang memasuki fase baru pergeseran kekuatan global. Menurutnya, sejumlah asumsi yang mendominasi tatanan internasional pasca-Perang Dingin mulai kehilangan relevansinya.
Ia melihat perkembangan di Iran dan perang Ukraina sebagai indikasi berkurangnya kemampuan Amerika Serikat untuk memaksakan kehendaknya melalui tekanan militer maupun ekonomi. Di sisi lain, negara-negara seperti Iran, Rusia, dan China dinilai semakin mampu meningkatkan biaya strategis yang harus ditanggung Washington.
Johnson berpendapat bahwa berbagai krisis yang terjadi saat ini tidak lagi dapat dipahami semata sebagai konflik regional, melainkan bagian dari transisi menuju sistem internasional yang lebih multipolar. Dalam tatanan tersebut, kekuatan-kekuatan regional memiliki ruang gerak yang lebih besar, sementara Amerika Serikat dituntut untuk lebih mengandalkan diplomasi, negosiasi, dan penyesuaian terhadap keseimbangan kekuatan yang baru.
Menurut Johnson, tantangan utama Washington ke depan adalah menyesuaikan diri dengan dunia yang tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh satu kekuatan dominan.
