Mantan Sekjen NATO: Kami Tidak Akan Memulai Perang Dunia III
POROS PERLAWANAN — Mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) sekaligus mantan Menteri Keuangan Norwegia, Jens Stoltenberg menyatakan bahwa persoalan terkait Ukraina tidak akan menyebabkan aliansi militer tersebut memicu Perang Dunia III.
Seperti dilaporkan IRNA pada Minggu 9 November, Stoltenberg menyampaikan dalam wawancara eksklusif dengan surat kabar Inggris The Sunday Times bahwa NATO tidak akan terlibat dalam konfrontasi langsung dengan Rusia dan tidak akan memulai Perang Dunia III, bahkan dalam upaya memperoleh dukungan lebih besar bagi Ukraina.
Ia mengakui, “Pada KTT NATO tahun 2018, ketika Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengumumkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan untuk menarik diri dari aliansi ini, saya sangat khawatir akan menjadi Sekretaris Jenderal yang menyaksikan berakhirnya NATO.”
“Kemudian kami berhasil mencapai kesepakatan. Sekutu-sekutu Eropa berkomitmen untuk meningkatkan porsi belanja pertahanan, dan komitmen ini benar-benar diwujudkan. Sebagian besar negara kini mengalokasikan anggaran pertahanan yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu, dan terdapat rencana untuk meningkatkannya lagi,” tambah Stoltenberg.
Ketegangan antara Moskow dan NATO, serta spekulasi mengenai kemungkinan pecahnya Perang Dunia III, meningkat dalam beberapa hari terakhir menyusul penemuan dan kemunculan pesawat tanpa awak tak dikenal di sejumlah negara Eropa serta tuduhan yang diarahkan kepada Rusia. Para analis politik memperingatkan bahwa eskalasi ketegangan ini dapat memperluas perang di Ukraina dan berpotensi memicu Perang Dunia III.
Pernyataan Stoltenberg muncul setelah Financial Times sebelumnya melaporkan bahwa NATO tengah mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih tegas terhadap tindakan Rusia yang kian provokatif, termasuk kemungkinan pengerahan pesawat tak berawak bersenjata di sepanjang perbatasan dengan Rusia serta pencabutan pembatasan bagi pilot untuk menembak pesawat Rusia.
Surat kabar tersebut, mengutip empat pejabat NATO, menambahkan bahwa tujuan pembahasan itu adalah meningkatkan anggaran untuk menghadapi “perang hibrida” Rusia dan menyiapkan langkah balasan terhadap pelanggaran wilayah udara negara-negara anggota oleh pesawat nirawak dan jet tempur Moskow.
Negara-negara yang berbatasan langsung dengan Rusia, dengan dukungan Prancis dan Inggris telah memulai pembicaraan ini, yang kemudian meluas dan melibatkan lebih banyak negara anggota dalam aliansi yang kini beranggotakan 32 negara tersebut.
Usulan yang dibahas meliputi penggunaan pesawat pengintai tanpa awak untuk memantau aktivitas Militer Rusia, serta pelonggaran aturan bagi pilot yang beroperasi di perbatasan timur Uni Eropa agar mereka dapat merespons lebih cepat terhadap potensi ancaman dari Rusia.
Pilihan lain yang sedang dipertimbangkan NATO adalah menggelar latihan militer di sepanjang perbatasan Rusia, khususnya di wilayah terpencil dan area yang belum memiliki perlindungan memadai.
Bulan lalu, Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa NATO seharusnya menembak jatuh pesawat Rusia yang melanggar wilayah udara aliansi tersebut.
Financial Times juga mengeklaim bahwa puluhan pesawat tanpa awak tak dikenal telah menyebabkan gangguan besar di sejumlah bandara di Belgia, Denmark, dan Jerman. Beberapa pejabat menilai insiden itu terkait dengan bentuk “perang hibrida” yang dilancarkan Rusia, mencakup serangan siber dan upaya sabotase.
