Mayoritas Zionis Ingin Perang Diakhiri: Isyarat Retaknya Konsensus Perang
POROS PERLAWANAN – Ketika sirene perang terus meraung di Gaza, dan dentuman meriam menjadi latar belakang kehidupan sehari-hari, sebuah kenyataan baru mulai mencuat di tengah masyarakat Zionis: mereka keletihan perang. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya sejak agresi dimulai, mayoritas publik Zionis lebih memilih mengakhiri pertempuran melalui perjanjian komprehensif, ketimbang melanjutkan operasi militer tanpa akhir yang jelas.
Fenomena ini seolah menjadi cermin dari runtuhnya narasi rezim Netanyahu yang selama berbulan-bulan mengeklaim bahwa “kemenangan total” hanyalah masalah waktu. Namun, opini publik berbicara lain, rakyat sudah jenuh, dan kesabaran sosial terhadap perang panjang semakin menipis.
Perubahan Suasana Hati Publik
Menurut laporan Zeman Yisrael pada 21 Agustus, lebih dari 50 persen responden mendukung perjanjian menyeluruh yang tidak hanya menghentikan pertempuran, tetapi juga membebaskan seluruh tawanan dan membuka jalan bagi kesepahaman politik tentang masa depan Gaza.
Sebaliknya, hanya 29 persen yang masih menaruh harapan pada kembalinya perang skala penuh. Dukungan terhadap gencatan senjata sementara bahkan lebih kecil, sekitar 8,4 persen, sementara 4,9 persen menginginkan status quo dipertahankan.
Angka-angka ini sederhana, tetapi maknanya dalam; masyarakat Zionis tampaknya semakin sulit diyakinkan bahwa solusi militer dapat membawa keamanan jangka panjang. Di balik layar, mereka menuntut kepastian politik yang lebih konkret.
Implikasi Politik
Survei yang sama juga memotret peta elektoral jika Pemilu digelar saat ini. Hasilnya, partai Likud hanya meraih 28 kursi, turun dari dominasi tradisionalnya. Partai baru Naftali Bennett justru menanjak dengan 26 kursi. Sementara itu, partai-partai Arab berhasil mempertahankan 11 kursi, sedangkan Biru dan Putih pimpinan Benny Gantz gagal melewati ambang batas Knesset.
Konfigurasi ini menghasilkan peta politik yang rumit, 54 kursi untuk kubu koalisi, sementara 66 kursi berpihak pada oposisi. Artinya, bahkan secara politik, konsensus perang semakin goyah dan rezim Netanyahu menghadapi tekanan ganda dari oposisi politik maupun opini publik.
Bukan Hanya Soal Angka
Jika ditafsirkan lebih jauh, survei ini tidak hanya menunjukkan tren opini publik. Survei merepresentasikan retaknya legitimasi politik perang yang selama ini dijadikan modal utama rezim Zionis. Selama hampir setahun, narasi resmi menekankan bahwa operasi militer di Gaza adalah jalan satu-satunya untuk menjamin keamanan. Namun realitas di lapangan, ditambah tekanan ekonomi dan diplomatik, membuat masyarakat semakin mempertanyakan harga yang harus dibayar.
Lebih dari itu, perubahan opini ini menandai bahwa isu Gaza bukan lagi semata soal militer, tetapi telah menjelma menjadi krisis politik domestik. Netanyahu kini dihadapkan pada dilema klasik, melanjutkan perang dan kehilangan dukungan publik, atau menerima gencatan senjata komprehensif yang justru akan dianggap sebagai kekalahan politik oleh sebagian pendukungnya.
Analisis Penutup
Dengan mayoritas publik kini menginginkan jalan damai, jelas bahwa Israel menghadapi titik balik strategis. Perang Gaza tidak lagi dipandang sebagai ajang unjuk kekuatan, melainkan sebagai beban yang menggerogoti legitimasi internal.
Opini publik yang berbalik arah ini bisa menjadi tekanan terbesar bagi Netanyahu, lebih kuat bahkan daripada resolusi PBB atau kritik internasional. Sebab, ketika rakyat sudah lelah, fondasi politik rezim mana pun akan rapuh.
