Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Mearsheimer: Angkatan Laut AS Tak Punya Kemampuan Jamin Selat Hormuz Tetap Terbuka

POROS PERLAWANAN — Ilmuwan politik Amerika Serikat, John Mearsheimer menilai Angkatan Laut AS tidak memiliki kemampuan untuk menjamin Selat Hormuz tetap terbuka di tengah eskalasi ketegangan di Teluk Persia.

Mengutip Press TV pada Kamis 19 Maret, Mearsheimer menyebut jalur energi vital tersebut berada dalam lingkup pengaruh Iran, sekaligus menegaskan keterbatasan Washington dalam mengendalikan dinamika Kawasan.

Selat Hormuz merupakan titik strategis global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Jalur ini kembali menjadi sorotan setelah Iran menutup akses bagi kapal yang terkait dengan AS dan Israel.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kapal tanker menjadi sasaran Angkatan Laut Iran setelah dinilai melanggar pembatasan yang diberlakukan di tengah konflik dengan AS dan Israel.

Presiden AS, Donald Trump sempat mengusulkan pengawalan militer terhadap kapal yang melintasi selat tersebut. Rencana itu dibatalkan setelah muncul peringatan lanjutan dari Iran.

Penutupan jalur ini memicu guncangan ekonomi global. Harga energi di AS dan Eropa dilaporkan meningkat tajam, memperkuat kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Mearsheimer menegaskan bahwa kontrol atas Selat Hormuz tidak dapat dilepaskan dari faktor geografis dan militer Iran. “Selat Hormuz memiliki kepentingan yang luar biasa,” ujarnya.

“Kenyataannya adalah kita tidak punya cara untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.”

Ia juga menyoroti upaya Washington menggalang dukungan sekutu Eropa dan NATO untuk membentuk aliansi Angkatan Laut. Langkah tersebut dinilai tidak efektif.

“Fakta bahwa Trump meminta bantuan untuk menjalankan misi ini menunjukkan Angkatan Laut AS tidak mampu menjaga Selat ini tetap terbuka sendirian,” kata Mearsheimer.

Penilaian ini mencerminkan pergeseran keseimbangan kekuatan di Teluk Persia. Iran dinilai memiliki posisi strategis yang kuat dalam menentukan akses jalur energi global.

“Oleh karena itu, seiring perkembangan situasi, Iran memegang kendali yang sangat kuat,” ujarnya.

Analisis tersebut muncul saat konflik antara AS dan Israel dengan Iran memasuki fase kritis. Sejumlah pengamat menilai tujuan strategis Washington belum terlihat jelas, sementara risiko eskalasi terus meningkat dan berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Pernyataan Mearsheimer memperkuat pandangan bahwa tekanan militer terhadap Iran berisiko berbalik arah. Keunggulan geografis dan kapasitas militer Teheran dinilai cukup untuk mengganggu arus minyak global tanpa dapat dicegah secara efektif oleh kekuatan Angkatan Laut AS.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *