Media Israel Akui ‘Kekalahan Besar’ Rezim Zionis dan ‘Kemenangan Mengejutkan’ Hamas di Gaza
POROS PERLAWANAN — Dengan diumumkannya gencatan senjata di Gaza, hampir semua pihak, termasuk kalangan Zionis, sepakat bahwa rezim Israel menjadi pihak yang kalah dalam konflik terbaru ini. Media terkemuka Israel, Times of Israel, pada Minggu, 19 Januari, menegaskan dalam tajuknya bahwa pencapaian Israel dari perang ini “hampir tidak ada.” Sementara itu, ilmuwan hubungan internasional asal Amerika Serikat, John Mearsheimer, menyebut kemenangan Hamas sebagai sesuatu yang “mengejutkan.”
Kekalahan Besar Israel
“Kami mengalami kekalahan besar,” demikian pernyataan yang muncul dari berbagai kalangan, baik Zionis maupun non-Zionis, usai gencatan senjata di Gaza. Rezim Israel, meskipun dilengkapi peralatan militer canggih serta dukungan penuh dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat, gagal meredam perlawanan rakyat Palestina. Ketahanan rakyat Gaza, yang telah ditempa melalui 75 tahun perjuangan, kembali menunjukkan bahwa mereka tidak akan menyerah meskipun menghadapi blokade, tekanan, dan penderitaan yang luar biasa.
Setelah 15 bulan konfrontasi yang tidak seimbang, rezim Zionis akhirnya menyerah pada tekanan domestik dan internasional. Kabinet Benyamin Netanyahu terpaksa menerima syarat-syarat yang diajukan pihak Palestina, sebuah langkah yang dianggap sebagai bukti kekalahan strategis Israel. Faktor-faktor seperti tekanan ekonomi, keretakan sosial di kalangan Zionis, serta perpecahan politik dalam Kabinet disebut menjadi alasan utama keputusan ini.
John Mearsheimer: “Israel Kalah, Hamas Tetap Kuat”
Profesor hubungan internasional John Mearsheimer, dalam wawancara dengan John’s Substack pada 17 Januari, menyatakan:
“Jelas bahwa Israel kalah dalam kesepakatan gencatan senjata ini. Detail dari perjanjian ini membuat saya terkejut. Selain itu, Hamas tetap hidup dan aktif, sama sekali tidak terkalahkan… Israel menghadapi masalah serius di Gaza. Banyak artikel menunjukkan bahwa Hamas telah membangun kembali kekuatannya dan berada dalam kondisi yang baik. Bahkan, tampaknya Hamas berada pada tingkat kekuatan yang sama seperti pada 7 Oktober. Israel, terutama di utara Gaza, telah menanggung kerugian besar.”
Militer Israel, yang dirancang untuk perang jangka pendek, kini terjebak dalam konflik panjang di Gaza. Selain itu, mereka juga menghadapi tekanan dari selatan Lebanon dan Suriah, memperburuk situasi.
Pengakuan Pahit Pejabat Israel
Beberapa pejabat Israel secara terbuka mengakui kegagalan rezim mereka. Menteri Pendidikan Israel, Yoav Kisch, menulis di media sosial X:
“Saya memberikan suara setuju untuk gencatan senjata dalam rapat Kabinet. Harga kesepakatan ini sangat mahal.”
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, juga mengakui bahwa setelah berbulan-bulan berperang, Israel gagal membebaskan satu pun sandera hidup-hidup:
“Meskipun kami telah menimbulkan kerusakan pada Hamas, kami tidak bisa mencapai tujuan perang kami.”
9 Alasan Kemenangan Hamas
Times of Israel merinci sembilan faktor utama yang membuat Hamas unggul:
1. Hamas berhasil mengubah opini publik dunia melawan Israel.
2. Hamas menegosiasikan pembebasan ratusan tahanan Palestina, termasuk yang dihukum seumur hidup.
3. Meski beberapa pemimpin Hamas gugur, pengganti mereka telah disiapkan.
4. Hamas membangun kembali sayap militernya, kini dengan 12.000 pasukan bersenjata.
5. Hamas menunjukkan bahwa Israel bersedia membayar harga besar untuk konsesi kecil.
6. Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 melemahkan Israel secara signifikan.
7. Hamas mempertahankan kendali atas Gaza.
8. Israel gagal menghancurkan Hamas secara total.
9. Kerugian besar di pihak Israel, termasuk lebih dari 400 korban jiwa tentara, peningkatan utang nasional, dan kerusakan ekonomi.
Analisis Media Internasional
Jaringan berita i24NEWS melaporkan bahwa Hamas berhasil mencegah Israel mengonsolidasikan kekuatannya di Gaza:
“Hamas terus maju dalam mengelola Gaza, sementara Israel kalah dan tidak mampu mengubah realitas di wilayah tersebut.”
Kekalahan Israel dalam konflik ini mengejutkan pengamat internasional dan memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan rezim Zionis. Di sisi lain, kemenangan Hamas semakin memperkuat posisinya sebagai simbol perlawanan rakyat Palestina. Meskipun gencatan senjata ini mengakhiri pertempuran sementara, akar konflik tetap belum terselesaikan.
