Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Media Israel Akui Kemampuan Canggih Hizbullah yang Tembakkan Lebih dari 2.000 Rudal Sejak Awal Perang

POROS PERLAWANAN — Media Israel mengakui Hizbullah memiliki kemampuan militer canggih dengan kapasitas meluncurkan ribuan roket, di tengah meningkatnya tekanan di wilayah utara yang terus berada di bawah serangan.

Channel 12 Israel melaporkan bahwa hingga kini Hizbullah telah menembakkan lebih dari 2.000 roket dari Lebanon sejak awal perang. Intensitas serangan mendekati 100 roket per hari, disertai lebih dari 100 drone, seperti dilaporkan Al Mayadeen pada Rabu 18 Maret.

Pejabat Militer Israel menyatakan, “Hizbullah memiliki kemampuan tinggi dan mampu meluncurkan ratusan rudal ke arah utara.” Penilaian ini berbeda dari fase pascaperang sebelumnya dan periode gencatan senjata.

Militer Israel kini mulai memberikan peringatan dini kepada pemukim dan otoritas lokal terkait potensi gelombang serangan. Koresponden Channel 12 di wilayah utara, Guy Faron menyebut peringatan mencakup kemungkinan serangan malam hari dengan jumlah ratusan roket.

Tekanan meningkat dari otoritas lokal yang mengancam mendorong evakuasi akibat keterbatasan anggaran. Menanggapi situasi ini, Perdana Menteri Benyamin Netanyahu membatalkan rencana pemotongan anggaran sebesar 150 juta Shekel untuk rekonstruksi wilayah utara.

Langkah tersebut diambil di tengah kondisi ketika operasi militer intensif belum menghentikan kemampuan serangan Hizbullah.

Surat kabar Haaretz melaporkan serangan terus berlangsung di wilayah utara, termasuk penembakan puluhan roket ke arah pasukan Israel di Lebanon selatan.

Tekanan di wilayah utara meningkat

Sejumlah pemukim menyampaikan kondisi yang semakin berat. Bantuan yang diterima dinilai tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi.

Sebagian warga menggambarkan situasi saat ini sebagai “terjebak di antara suara sirene dan penembakan”, dengan aktivitas harian yang terus terganggu.

Laporan Channel 12 mencatat banyak pemukim menghadapi situasi ini dengan intensitas tinggi untuk pertama kali. Dalam dua pekan terakhir, gangguan tidur menjadi masalah umum dan memicu tuntutan relokasi sementara.

Keluhan juga diarahkan pada Rezim yang dinilai belum merespons secara memadai. Janji yang disampaikan sebelumnya dianggap tidak terealisasi, mendorong sebagian warga mempertimbangkan untuk meninggalkan wilayah hingga situasi lebih jelas.

Krisis perlindungan dan ketidakpastian

Channel 12 melaporkan lebih dari 10.000 warga di wilayah utara tidak memiliki tempat perlindungan yang memadai. Kondisi ini paling terasa di kawasan dekat perbatasan Lebanon yang setiap hari menghadapi ancaman serangan.

Wilayah utara disebut berada dalam kondisi stagnan sejak awal konfrontasi. Bantuan dinilai terbatas, komunikasi dengan otoritas lokal minim, dan belum ada keputusan jelas terkait masa depan warga.

Salah satu Kepala Dewan Lokal menyatakan, “Kami berada di tengah badai, tetapi pemerintah memandang kami sebagai front sekunder dan tidak relevan.”

Keluhan lain menyoroti minimnya fasilitas perlindungan. “Para pemukim di sini tidak memiliki ruangan yang diperkuat dan terpaksa mencari perlindungan dalam hitungan detik,” ujarnya.

Pernyataan lanjutan menegaskan kekecewaan terhadap Rezim Netanyahu. “Sungguh mengejutkan, setelah berminggu-minggu pertempuran, tidak ada komunikasi langsung. Perdana Menteri Benyamin Netanyahu bahkan tidak menanyakan kondisi kami.”

Pembatalan pemotongan anggaran belum menjawab kebutuhan mendesak di lapangan. Sejumlah warga masih menghadapi situasi tanpa perlindungan memadai di tengah serangan yang terus berlanjut.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *