Media Israel: Kesepakatan Ini Adalah Bentuk Penyerahan Diri kepada Lebanon
POROS PERLAWANAN – Media-media Israel hari ini, Sabtu 30 November melaporkan kondisi meningkatnya rasa kecewa dan kekhawatiran di kalangan pemukim Israel yang tinggal di wilayah utara Palestina yang Diduduki. Mereka mempertanyakan keamanan dan kelayakan untuk kembali ke permukiman yang berada di dekat perbatasan Lebanon setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata.
Ketua Dewan Margaliot: “Kami Tidak Merasa Aman”
Ketua Dewan Permukiman Margaliot, Eitan Davidi, secara terang-terangan menyatakan ketidakpuasan dan ketidakpercayaannya terhadap kesepakatan dengan Lebanon dalam wawancara dengan saluran Channel 12 Israel. “Saya tidak puas, tidak senang, dan tidak merasa aman dengan kesepakatan ini,” katanya. Menurutnya, penduduk di wilayah utara menginginkan zona penyangga yang aman.
“Kami sudah pernah mengalami hidup di dekat Hizbullah selama 18 tahun, dan itu adalah kegagalan besar,” tambahnya. Davidi menegaskan bahwa tanpa adanya jaminan keamanan yang konkret, kembali ke permukiman di utara adalah langkah yang berisiko besar.
Kondisi Infrastruktur yang Hancur
Seorang jurnalis senior di majalah Globes, Naama Sikuler mengkritik keras kondisi buruk di wilayah utara. Ia mengungkapkan bahwa banyak permukiman di kawasan tersebut hancur total, tanpa akses jalan maupun infrastruktur yang memadai. “Ada permukiman yang tidak bisa dimasuki karena benar-benar rusak,” ujarnya. Ia juga mempertanyakan, “Bagaimana penduduk akan kembali jika situasi seperti ini?”
Lieberman: “Kesepakatan Ini Adalah Penyerahan kepada Hizbullah”
Sementara mantan Menteri Keamanan Israel, Avigdor Lieberman memberikan kritik tajam terhadap kesepakatan yang tercapai. Menurutnya, perjanjian tersebut merupakan bentuk “penyerahan diri” kepada Hizbullah. Ia menyoroti fakta bahwa hingga saat ini penduduk permukiman di wilayah utara belum kembali ke rumah mereka, sementara pejuang Hizbullah telah kembali ke wilayah selatan Lebanon tanpa hambatan.
Lieberman menyindir pedas terhadap rezim Israel saat ini dan menyatakan bahwa “rakyat Israel layak mendapatkan kepemimpinan yang lebih baik.”
Olmert: “Ini Tidak Berbeda dengan 2006”
Sementara mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, juga menyampaikan pandangannya. Ia menyebut kesepakatan ini tidak berbeda dengan perjanjian yang tercapai pada tahun 2006. “Ini adalah satu-satunya kesepakatan yang mungkin dicapai,” ujarnya, seraya menambahkan, kesepakatan ini seharusnya sudah selesai lebih dari dua bulan lalu.
Olmert juga mengkritik penundaan yang terjadi, dan menyebut jika kesepakatan dicapai lebih awal, nyawa setidaknya 80 tentara Israel dapat diselamatkan.
Namun, ia mengingatkan, meskipun zona penyangga dibuat di Lebanon selatan dengan kedalaman hingga 40 kilometer, itu tidak akan cukup untuk menangkal ancaman Hizbullah. “Rudal Hizbullah memiliki jangkauan yang jauh lebih panjang dari itu,” tegas Olmert.
Kegelisahan yang Meluas
Kritik dari para pejabat dan kondisi lapangan yang dilaporkan oleh media-media menunjukkan kegelisahan yang meluas di Israel. Keputusan untuk melanjutkan kehidupan di wilayah utara tampaknya masih menjadi pertanyaan besar, baik dari sisi keamanan maupun kelayakan infrastrukturnya. Di sisi lain, Hizbullah dianggap semakin memperkuat posisinya, menambah tekanan terhadap rezim Israel untuk memberikan solusi yang nyata.
