Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Mengapa Organisasi Intelijen IRGC Menangkap Anggota Institut Akademi Iran

Mengapa Organisasi Intelijen IRGC Menangkap Anggota Institut Akademi Iran

POROS PERLAWANAN – Organisasi Intelijen IRGC menyatakan telah mengidentifikasi dan menahan sekitar 400 anggota Institut Akademi Iran, sebuah lembaga pendidikan daring yang dinilai sebagai bagian dari jaringan subversi lunak yang beroperasi untuk kepentingan pihak asing. Penangkapan ini merupakan tindak lanjut atas laporan media pekan lalu mengenai keberadaan jaringan pendidikan yang bekerja sama dengan badan intelijen luar negeri.

Menurut laporan Kayhan pada Sabtu 15 November, IRGC menyebut bahwa Institut Akademi Iran, yang beroperasi di dalam dan luar negeri, menjadi saluran kegiatan politik, ideologis, dan sosial yang bertentangan dengan keamanan nasional. Lembaga ini, yang dikenal sebagai Iran Academia, berpusat di Den Haag, Belanda, dan menyediakan pendidikan daring bidang humaniora dan ilmu sosial secara gratis.

Iran Academia didirikan oleh Alireza Kazemi, lulusan Studi Timur Tengah Universitas Amsterdam. Situs tersebut menyatakan berdiri pada 2012 dan menawarkan program setara magister selama satu tahun, webinar, serta konferensi jangka pendek bertajuk Academics. Sejumlah kursus, seperti “Pengorganisasian Sosial dan Advokasi”, disebut menyediakan pelatihan pembentukan gerakan sosial di Iran yang dikelola oleh kelompok-kelompok kiri Iran maupun diaspora.

Sebagian materi yang menjadi fokus Iran Academia, seperti isu gender, gerakan separatis, dan nasionalisme Kurdi, dinilai IRGC sebagai jalur masuk bagi agenda politik kelompok asing. Kantor Berita Mashreq melaporkan bahwa lembaga ini juga memberikan ruang bagi narasi separatis serta topik sensitif lain terkait etnis dan agama.

Di antara para instruktur Iran Academia terdapat sejumlah figur yang memiliki riwayat politik atau afiliasi dengan media serta organisasi luar negeri. Pemimpin Redaksi Radio Zamaneh sejak 2012, Mohammad Reza Nikfar, dikenal sebagai pengkritik agama dan pendukung sekularisme. Ia pernah menjadi anggota kelompok Fedayeen Khalq dan menyuarakan dukungan terhadap slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan”.

Laporan juga menyebut peran mantan Anggota MKO, Farah Karimi, yang kemudian berkarier di parlemen Belanda, sebagai penyedia dukungan finansial melalui Yayasan HIFOS. Yayasan tersebut sebelumnya pernah beroperasi di Iran sebelum Pemerintah memasukkannya dalam daftar organisasi subversif pada 2006. Menurut kesaksian Kian Tajbakhsh, HIFOS mengucurkan dana hingga 10 juta Euro pada akhir masa kepresidenan Khatami, sebagian besar kepada gerakan perempuan.

Tokoh lain yang dikaitkan dengan Iran Academia adalah Pendiri Yayasan Siamak Pourzand, Azadeh Pourzand, yang menerima pendanaan besar dari lembaga donor asing. Sejumlah anggota dewan pendiri yayasan tersebut tercatat memiliki hubungan dengan media atau organisasi internasional, termasuk IranWire dan jaringan berbasis Barat.

Warga negara Iran-Kanada, Raha Bahreini, menjadi salah satu figur utama Akademi dan pembicara dalam konferensi “Studi Iran” di Den Haag. Ia menyatakan bahwa salah satu tujuan pendirian Iran Academia adalah menantang nilai-nilai keagamaan dalam pendidikan Iran, sekaligus mendukung kelompok Baha’i.

Tokoh lain, Saeed Peyvandi, dikenal sebagai penulis di Radio Farda dan pengkritik sistem pendidikan Iran. Ia menekankan bahwa mayoritas peserta Akademi berasal dari kelompok minoritas etnis dan agama, yang menurut IRGC mengindikasikan pola investasi pada kelompok separatis.

Selain itu, nama Zeinab Peymanzadeh disebut sebagai pembimbing akademik yang fokus pada isu gender dan orientasi seksual. Ia dikaitkan dengan berbagai proyek penelitian yang menonjolkan identitas minoritas, termasuk tesis berbahasa Kurdi yang dipandang berpotensi memperkuat agenda separatis.

Penerima Nobel Perdamaian 2002, Shirin Ebadi, juga tercatat sebagai salah satu instruktur. Ia dikenal aktif dalam kampanye isu gender dan kritik terhadap kebijakan Pemerintah Iran sejak meninggalkan negara tersebut pada 2009.

IRGC menilai bahwa sejumlah aktivitas dan jaringan pendukung Iran Academia menunjukkan keterkaitan dengan lembaga asing serta tokoh yang berorientasi pada proyek-proyek politik, sekularisasi radikal, dan pengorganisasian gerakan pemuda. Studi analitis yang dikutip Kayhan menyimpulkan bahwa lembaga ini memprioritaskan agenda sekularisme, gerakan identitas, dan jaringan pemuda alih-alih program akademik murni.

Organisasi Intelijen IRGC menyatakan bahwa identifikasi dan penangkapan anggota Akademi dilakukan untuk mencegah aktivitas subversif serta mengamankan apa yang mereka sebut sebagai “lapisan jaringan subversi lunak” yang beroperasi di bawah kedok pendidikan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *