Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Mengupas Narasi Bias dan Tuduhan Ngawur Barat Soal ‘Proksi Iran’, Mengungkap Fakta di Balik Poros Perlawanan

POROS PERLAWANAN – Media Barat kerap menggunakan istilah seperti “proksi Iran,” “kelompok yang didukung Iran,” atau “Poros Iran” untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Poros Perlawanan di Asia Barat. Istilah ini seolah menggambarkan kelompok-kelompok seperti Ansarullah di Yaman, Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Palestina, serta Perlawanan Islam di Irak sebagai boneka di tangan Iran. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, narasi ini tidak hanya bias tetapi juga gagal mencerminkan realitas kompleks di lapangan.

Pada Minggu, 22 Desember, di Musala Imam Khomeini Tehran, Pemimpin Tertinggi Islam, Ayatullah Ali Khamenei, dengan tegas menepis klaim ini. Dalam khutbahnya, beliau menyatakan bahwa kelompok-kelompok tersebut tidak bertindak atas perintah Iran, melainkan berdasarkan keyakinan dan prinsip mereka sendiri. “Yaman berjuang karena keyakinannya sendiri. Hizbullah bertempur karena kekuatan iman mereka. Hamas dan Jihad Islam berperang karena akidah mereka,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi sorotan penting dalam memahami dinamika Poros Perlawanan, sekaligus menantang narasi yang dominan di media Barat.

Poros Perlawanan: Sejarah Panjang Melawan Dominasi Asing

Poros Perlawanan bukanlah aliansi baru. Sejarahnya berakar pada penolakan terhadap hegemoni Barat, pendudukan Israel di Palestina, dan ancaman dari kelompok teroris Takfiri seperti ISIS dan Al-Qaeda. Komposisinya melibatkan pemerintah, organisasi, dan gerakan yang memiliki tujuan serupa: menentang dominasi asing dan mempertahankan kedaulatan nasional.

Parsa Najafi, seorang pakar Asia Barat, menjelaskan bahwa ideologi Perlawanan ini telah tumbuh selama beberapa dekade, jauh sebelum Revolusi Islam Iran 1979. Ia mencontohkan Revolusi Irak 1920, ketika rakyat Irak dari berbagai latar belakang agama bersatu melawan pendudukan Inggris. Di Lebanon, perlawanan terhadap Israel telah dimulai sebelum revolusi Iran, dengan kelompok Amal sebagai salah satu pelopornya. Sementara itu, di Yaman, perjuangan melawan dominasi Inggris dan Saudi telah berlangsung sejak 1962.

“Revolusi Islam Iran tidak menciptakan perlawanan ini, tetapi memberikan dorongan dan inspirasi baru bagi gerakan-gerakan yang sudah ada,” kata Najafi. Revolusi Islam Iran menjadi model keberhasilan dalam menentang dominasi Barat, sekaligus memotivasi kelompok-kelompok lain untuk memperkuat perjuangan mereka.

Hubungan Iran dengan Poros Perlawanan: Kolaborasi, Bukan Kontrol

Hubungan Iran dengan kelompok-kelompok Perlawanan sering digambarkan sebagai hubungan hierarkis, di mana Iran bertindak sebagai Pusat Komando. Namun, kenyataannya lebih bersifat kolaboratif. Iran memang menyediakan bantuan teknis, seperti pengetahuan dalam pembuatan rudal dan drone, kepada kelompok seperti Ansarullah di Yaman. Namun, keputusan strategis tetap sepenuhnya berada di tangan masing-masing kelompok.

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak membutuhkan “proksi” untuk bertindak. “Jika suatu hari kami memutuskan untuk bertindak, kami cukup kuat untuk bertindak sendiri,” ujarnya. Pernyataan ini menekankan bahwa hubungan Iran dengan Poros Perlawanan adalah hubungan solidaritas dan dukungan, bukan dominasi.

Narasi Barat: Propaganda yang Merusak Kredibilitas

Pelabelan “proksi Iran” oleh media Barat bertujuan untuk merusak legitimasi perjuangan kelompok-kelompok Perlawanan. Narasi ini mencoba menggambarkan mereka sebagai alat politik Iran, bukan entitas independen yang berjuang untuk pembebasan nasional atau pembelaan terhadap agresi asing.

Selain itu, narasi ini juga berfungsi sebagai alat divide et impera modern, yang dirancang untuk menciptakan perpecahan internal. Di satu sisi, rakyat Iran diberi kesan bahwa negara mereka terlalu terlibat dalam konflik di negara lain. Di sisi lain, rakyat di Lebanon, Palestina, atau Yaman diberitahu bahwa perjuangan mereka dikendalikan oleh Iran. Strategi ini bertujuan mencegah solidaritas lintas negara di dunia Muslim, yang berpotensi menantang hegemoni global Barat.

Poros Perlawanan Adalah Suara Kemandirian

Label “proksi Iran” yang sering digunakan media Barat tidak hanya bias tetapi juga menyesatkan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok dalam Poros Perlawanan bertindak berdasarkan keyakinan, akidah, dan prinsip mereka sendiri, bukan atas arahan telunjuk Iran. Sejarah panjang Perlawanan di Irak, Lebanon, Palestina, dan Yaman menunjukkan bahwa semangat anti-hegemoni telah mengakar jauh sebelum Revolusi Islam Iran.

Narasi yang menyebut mereka sebagai proksi hanya berfungsi untuk melemahkan Perjuangan mereka, merusak solidaritas regional, dan mempertahankan dominasi global Barat. Sebaliknya, fakta menunjukkan bahwa Poros Perlawanan adalah cerminan dari perjuangan otentik untuk keadilan, kemandirian, dan penolakan terhadap dominasi asing. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *