Menlu Iran: Teheran Tidak Melihat Batasan dalam Membela Diri
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan negaranya tidak melihat batasan dalam membela diri setelah pembunuhan terhadap Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan AS–Israel. Ia menyebut aksi tersebut sebagai tindakan sangat berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Minggu 1 Maret, Araghchi menilai serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Ia menegaskan Iran akan menggunakan hak sahnya untuk mempertahankan diri.
“Kami tidak mengharapkan hal istimewa dari pihak lain dan mampu membela diri,” ujar Araghchi. Ia menambahkan Iran akan bertindak “tanpa batasan apa pun berdasarkan hak-haknya yang sah”.
Menurut Araghchi, Angkatan Bersenjata Iran telah menjalankan aksi balasan terhadap target musuh secara mandiri sesuai instruksi yang telah ditetapkan. Setelah wafatnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, sebuah Dewan Transisi dibentuk dan Pemerintahan berjalan sesuai Konstitusi. Ia menyebut seluruh lembaga negara tetap berfungsi dan pemimpin baru berpeluang dipilih dalam beberapa hari ke depan.
Target Militer AS, Bukan Negara Teluk
Araghchi menekankan hubungan Iran dengan negara-negara pesisir Teluk Persia tetap baik. Teheran tidak berniat menyerang negara tetangga.
“Kami tidak menyerang negara-negara Teluk Persia, tetapi akan menargetkan kehadiran Militer AS di negara-negara tersebut,” tegasnya.
Ia juga menyatakan serangan Iran terhadap pangkalan militer AS telah mendorong Washington mengevakuasi sebagian fasilitas militernya di Kawasan. Araghchi mengaku terus berkomunikasi dengan para menteri luar negeri regional dan telah menyampaikan penjelasan resmi terkait posisi Teheran.
Sejumlah negara Teluk menyampaikan keberatan atas serangan terhadap pangkalan AS di wilayah mereka. Araghchi menilai perang ini bukan pilihan Iran, melainkan situasi yang dipaksakan.
“Perang ini dilancarkan oleh AS dan Israel dan tekanan harus diberikan kepada mereka,” katanya, seraya meminta negara tetangga menyampaikan ketidakpuasan kepada Washington dan Tel Aviv, bukan kepada Iran.
Isu Perubahan Rezim dan Selat Hormuz
Menanggapi wacana perubahan sistem pemerintahan Iran, Araghchi menyebut gagasan tersebut tidak realistis.
“Perubahan rezim di Iran adalah misi yang mustahil dan bahkan ketidakhadiran atau kemartiran pemimpin negara pun tidak akan membuat hal ini menjadi mungkin,” ujarnya.
Ia menegaskan Iran tetap berpegang pada jalur diplomasi. Menurutnya, Washington melancarkan serangan saat proses negosiasi masih berlangsung. Setiap upaya penghentian perang bergantung pada dihentikannya agresi.
Sekaitan dengan spekulasi penutupan Selat Hormuz, Araghchi memastikan Iran tidak memiliki rencana mengganggu lalu lintas maritim. Fokus Pemerintah saat ini adalah respons defensif dan pengelolaan krisis.
Situasi Kawasan terus berkembang dengan risiko eskalasi yang kian terbuka. Jalur diplomatik masih tersedia, namun tekanan militer meningkat tajam.
