Militer Israel Akui Tak Mampu Kendalikan Jalur Gaza
POROS PERLAWANAN – Militer rezim Pendudukan Israel mengakui ketidakmampuannya dalam menguasai Jalur Gaza akibat kekurangan jumlah pasukan. Dalam laporan yang dipublikasikan oleh Benny Ashkenazi melalui situs Israel Walla, pada Rabu 20 November, pengakuan ini dituangkan dalam respons resmi Militer Israel kepada Mahkamah Agung terkait masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Menurut laporan tersebut, Militer Israel menyampaikan bahwa jumlah personel militer yang ada saat ini tidak mencukupi untuk memastikan kendali efektif atas Gaza. Bahkan, Kantor Jaksa Agung Israel, yang mewakili Militer, menegaskan bahwa skala kekuatan militer serta sifat operasi saat ini tidak memungkinkan terciptanya kontrol yang menyeluruh di wilayah tersebut.
Hamas Tetap Mempertahankan Kekuasaan
Dalam pernyataannya, Kantor Jaksa Agung juga mengakui bahwa hingga kini Militer Israel belum memiliki kendali penuh atas Jalur Gaza. “Kemampuan Hamas untuk menjalankan otoritas Pemerintahan belum sepenuhnya dihancurkan”, tulisnya.
Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu menyatakan bahwa Hamas tidak akan lagi eksis di Gaza. Namun, laporan resmi Militer tersebut memperlihatkan realitas berbeda, dengan menggarisbawahi, kekurangan personel merupakan salah satu tantangan utama.
Kurangnya Personel dan Penolakan Wajib Militer
Salah satu faktor yang turut memperparah situasi adalah rendahnya angka rekrutmen di kalangan masyarakat Haredi (ultra-Ortodoks), yang terus menghindari wajib militer. Hal ini semakin mempertegas ketimpangan dalam jumlah personel militer Israel, yang berdampak pada ketidakmampuan mereka mengendalikan wilayah yang mereka duduki.
Implikasi Strategis
Pengakuan ini menjadi tamparan keras bagi upaya Israel untuk memperkuat cengkeramannya di Gaza, terutama di tengah meningkatnya tekanan internasional terkait serangan brutal mereka di wilayah tersebut. Ketidakmampuan Militer untuk menguasai Gaza menunjukkan bahwa operasi militer Israel, meski mengandalkan kekuatan destruktif, tidak selalu berhasil menciptakan kontrol yang efektif di lapangan.
Dengan situasi ini, semakin jelas bahwa Israel menghadapi tantangan besar baik di medan perang maupun dalam mempertahankan narasi dan propaganda tentang kedigdayaan kekuatan militernya di mata dunia.
