Mimpi Buruk Amerika–Israel bagi Kawasan, Berawal dari Gerbang ‘Penyatuan’ Lebanon dan Suriah
POROS PERLAWANAN — Jurnalis dan analis Palestina yang memimpin situs opini Rai al-Youm, Abdel Bari Atwan memperingatkan adanya rencana Amerika Serikat dan Israel yang menurutnya menjadikan Lebanon dan Suriah sebagai pintu masuk proyek geopolitik baru di Kawasan. Mengutip laporan Tasnim News Agency pada Rabu 10 Desember, Atwan menyatakan bahwa Washington menyiapkan skema untuk mengintegrasikan Lebanon ke dalam “Suriah baru” yang dipimpin rezim berafiliasi AS–Israel, sebagai tahapan pembuka menuju proyek strategis terakhir mereka.
Atwan menanggapi pernyataan utusan AS untuk Lebanon dan Suriah, Tom Barak, dalam pidatonya di KTT Doha. Menurut Atwan, pernyataan Barak mengenai penyatuan Lebanon dan Suriah bukanlah ungkapan belaka; ia memandangnya sebagai bagian dari rencana yang telah disusun matang oleh Pemerintahan Donald Trump, yang berlandaskan doktrin “perdamaian yang dipaksakan dengan kekuatan”. Doktrin ini sejalan dengan agenda Israel memperluas normalisasi dengan negara-negara Arab dan menyiapkan pijakan bagi proyek “Israel Raya”.
Atwan menjelaskan bahwa desakan AS untuk melucuti senjata Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza terhubung langsung dengan skema tersebut. Persenjataan Perlawanan di Palestina, Lebanon, dan Yaman dipandang sebagai hambatan yang ingin disingkirkan secepat mungkin, baik melalui tipu daya negosiasi maupun kekuatan Militer dan serangan udara.
Ia menyinggung pernyataan Barak setelah pertemuan antara Abu Muhammad al-Jolani dan Trump di Gedung Putih, ketika Barak mengeklaim Jolani telah menyatakan komitmen memerangi kelompok yang diklasifikasikan AS sebagai teroris, termasuk Hizbullah dan Hamas. Dalam kerangka ini, integrasi Lebanon ke dalam “Suriah baru” berarti pembongkaran struktur identitas, politik, dan sosial Lebanon, untuk diganti dengan rezim sektarian yang beroperasi di bawah payung keamanan AS–Israel.
Atwan mengutip pelanggaran berulang Rezim Israel terhadap gencatan senjata, lebih dari 7.000 kasus, serta serangan terus-menerus terhadap Lebanon selatan, Hermel, Bekaa, dan pinggiran Beirut. Semua ini ia gambarkan sebagai strategi tekanan guna memaksa otoritas Lebanon menyerah dan mengikuti kehendak Washington dan Tel Aviv.
Ia juga menilai Pemerintah Lebanon mulai menunjukkan tanda-tanda menyerah, dengan keikutsertaan dalam pertemuan Ras al-Naqoura dalam kerangka Komite Mekanisme yang mengawasi gencatan senjata, tanpa konsultasi nasional. Pertemuan pekan lalu yang berlangsung di bawah supervisi Amerika menghasilkan kesepahaman keamanan dan ekonomi, dan pertemuan kedua dijadwalkan pada 19 Desember. Pemerintah Lebanon menyatakan proses ini bukan normalisasi, namun Atwan menyebutnya sebagai tipuan yang didukung politik dan media.
Atwan memperingatkan bahwa langkah tersebut merupakan awal normalisasi dan pintu masuk bagi Lebanon, dan kemudian Suriah untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham. Ia menilai fase itu membuka jalan menuju implementasi bertahap proyek “Israel Raya” yang mencakup wilayah Suriah, Lebanon, Palestina, sebagian Irak, wilayah utara Arab Saudi termasuk Mekkah dan Madinah, serta Mesir utara dan Sinai.
Di akhir tulisannya, Atwan menyatakan bahwa rencana Amerika–Zionis itu berjalan perlahan namun pasti, sementara militer dan negara-negara Arab melemah atau menyerah karena tekanan politik dan Militer Israel. Ia menyebut Perlawanan di Gaza sebagai satu-satunya kekuatan yang masih menjaga martabat umat dan menolak mengibarkan bendera menyerah.
