Misi Trump ke Beijing Gagal Bendung Dukungan China untuk Iran
POROS PERLAWANAN — Kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump ke China dinilai berakhir tanpa keuntungan strategis bagi Washington dalam upaya menekan Iran, terutama soal ekspor minyak Teheran dan situasi Selat Hormuz.
Mengutip laporan Press TV pada Sabtu 16 Mei, lawatan dua hari Trump ke Beijing gagal membujuk China untuk mengurangi pembelian minyak Iran maupun bergabung dalam tekanan maritim Amerika Serikat di Teluk Persia.
Sebelum kunjungan berlangsung, sekutu Barat dan negara-negara Teluk berharap tercapai kesepakatan besar antara Washington dan Beijing. Amerika Serikat diperkirakan akan menawarkan konsesi perdagangan sebagai imbalan atas tekanan ekonomi China terhadap Iran.
Namun skenario tersebut tidak terwujud.
China tetap mempertahankan impor minyak dari Iran yang selama ini menyerap sekitar 90 persen ekspor minyak Teheran. Kondisi itu dinilai membuat strategi blokade ekonomi Amerika terhadap Iran kehilangan efektivitas.
Kepemimpinan China bahkan disebut menegaskan akan terus membeli minyak Iran tanpa pengurangan apa pun. Dalam pernyataannya, Trump juga mengakui adanya pembahasan mengenai kemungkinan pencabutan sanksi terhadap perusahaan energi China.
“Ketika Anda meminta bantuan, Anda harus memberi imbalan,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One saat kembali dari Beijing.
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak membutuhkan “bantuan” karena menurutnya Washington telah “melumpuhkan kekuatan Militer Iran”. Sejumlah pengamat menilai pernyataan itu menjadi sinyal bahwa permintaan Amerika kepada Beijing tidak dipenuhi.
Kebuntuan juga terjadi dalam isu Selat Hormuz. Washington berharap China menggunakan pengaruh diplomatiknya terhadap Iran untuk membuka jalur pelayaran strategis tersebut sesuai kepentingan Amerika dan sekutunya di Teluk.
Namun tidak ada kesepakatan konkret yang dihasilkan dari pertemuan itu.
Sebaliknya, China kembali menegaskan penolakannya terhadap militerisasi kawasan Teluk Persia dan menyebut konflik yang terjadi sebagai perang yang seharusnya tidak pernah berlangsung.
Di tengah kunjungan Trump, sejumlah kapal tanker dan kargo yang terkait dengan China dilaporkan tetap melintasi Selat Hormuz melalui koridor aman yang dikendalikan Iran. Langkah itu dipandang pengamat sebagai sinyal politik terbuka Beijing kepada Washington.
Beijing juga disebut memandang blokade laut Amerika bukan hanya ditujukan kepada Iran, melainkan sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategis China sendiri.
Sejak 2019, China dilaporkan mengkaji berbagai skenario tentang pengerahan armada Amerika Serikat di Samudera Hindia dan dampaknya terhadap Kawasan mulai dari Laut Oman hingga Selat Taiwan.
Dalam sektor ekonomi, sejumlah analis dari Economist Intelligence Unit dan Eurasia Group menilai posisi China justru lebih kuat dibandingkan Amerika Serikat karena dominasi Beijing atas sumber daya strategis, termasuk logam tanah jarang, serta pengaruh diplomatiknya dalam konflik Iran.
Salah satu indikator yang disorot ialah kesepakatan pembelian pesawat Boeing. Sebelum kunjungan Trump, China disebut mempertimbangkan pembelian 500 pesawat Boeing. Namun setelah pertemuan berlangsung, jumlah itu turun menjadi 200 unit dan memicu penurunan saham Boeing sebesar empat persen.
Tidak adanya pernyataan bersama setelah pertemuan kedua negara juga dinilai menunjukkan Washington dan Beijing gagal mencapai titik temu soal Iran dan dinamika keamanan Kawasan.
Laporan tersebut menyimpulkan kegagalan menghentikan ekspor minyak Iran serta absennya dukungan China terhadap blokade Amerika menjadi pukulan strategis bagi Washington dalam persaingan geopolitik terbaru di Timur Tengah.
