Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Mohajerani: Israel Bunuh 45 Perempuan dan Anak-Anak di Iran

Kedubes Iran Ultimatum Telegraph: Berhenti Tebar Dusta!

POROS PERLAWANAN – Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa 45 perempuan dan anak-anak gugur sebagai martir dalam serangan Israel baru-baru ini, sementara 75 lainnya mengalami luka-luka. Serangan brutal ini kembali mempertegas bahwa rezim Zionis tak hanya berbohong kepada dunia, tetapi juga terus menyasar warga sipil tanpa ampun.

Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, dalam wawancara televisi pada Senin 16 Juni, menyatakan bahwa kekuatan bangsa Iran saat ini bertumpu pada perdamaian dan kohesi nasional. “Alhamdulillah, kita memiliki persatuan yang solid. Rakyat Iran bekerja dan berpikir demi masa depan negaranya. Tak ada ruang untuk konflik partisan,” tegasnya.

Serangan Terhadap Rumah Sakit dan Warga Sipil

Mohajerani menegaskan bahwa serangan terbaru Israel bahkan menargetkan fasilitas medis. “Rezim palsu ini menyerang Rumah Sakit Farabi di Kermanshah. Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.

Ia juga mengungkap bahwa beberapa stasiun kereta bawah tanah telah dibuka sebagai tempat penampungan darurat bagi warga. Pemerintah sedang mengupayakan agar fasilitas ini tetap terbuka untuk menjamin keselamatan masyarakat.

Evakuasi dan Seruan Pemerintah

Menanggapi pergerakan warga yang meninggalkan Teheran, Mohajerani menyatakan, “Kami menghormati keputusan rakyat, namun kami menyerukan kerja sama penuh dengan aparat lalu lintas. Evakuasi yang tidak terkoordinasi justru membahayakan.”

Dalam konteks perang hibrida, ia memperingatkan: “Musuh menjalankan operasi psikologis secara massif. Kami minta masyarakat tidak mempercayai pesan palsu, terutama terkait evakuasi kota. Jangan terjebak dalam perang informasi.”

Pelayanan Publik dan Keamanan Siber

Meski situasi genting, Mohajerani menegaskan bahwa pelayanan publik tetap berjalan. “Bank tetap beroperasi. Pasar modal ditutup hanya untuk melindungi aset rakyat,” jelasnya.

Terkait kebijakan pengendalian internet, ia menambahkan: “Demi menjaga stabilitas sistem informasi dan menghadapi ancaman siber, kecepatan internet akan dikurangi secara terkendali di waktu-waktu tertentu. Ini adalah langkah pencegahan, bukan pembatasan kebebasan.”

Penegasan Kebenaran di Tengah Kepungan Dusta

Penuturan Mohajerani menjadi penegasan bahwa Iran tidak tinggal diam. Di tengah hujan rudal dan desakan propaganda, Pemerintah mengedepankan transparansi, menjaga stabilitas, dan menolak tunduk pada tekanan internasional yang memihak agresor.

“Israel berbohong. Dunia harus membuka mata. Korban sipil kami adalah bukti nyata dari kebiadaban rezim yang selama ini berlindung di balik kedok demokrasi,” pungkas Mohajerani.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *