Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Negara-Negara Arab dan Islam Sambut ‘Rencana Perdamaian’ Usulan Trump

POROS PERLAWANAN – Donald Trump, selaku Presiden Amerika Serikat yang lebih sering dikenal sebagai komedian politik dunia ketimbang arsitek perdamaian, kembali meluncurkan karya terbarunya: sebuah “rencana perdamaian” untuk Gaza. Dengan penuh percaya diri, ia bahkan menamai Badan Internasional barunya “Dewan Perdamaian”… dan tentu saja, siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri yang didaulat menjadi Ketua Agung lembaga tersebut.

Trump menyebutnya “nama yang indah.” Dunia menyebutnya… yah, mari kita sopan, tragikomedi.

Namun yang lebih menarik bukanlah isi “rencana” itu, karena isinya sudah bisa ditebak: retorika kosong, janji rekonstruksi, dan jargon tulus ala Washington. Hal yang mencuri perhatian justru sambutan hangat dari sejumlah negara Arab dan Islam.

Menurut laporan Al-Mayadeen pada Selasa 30 September, Arab Saudi, Yordania, UEA, Mesir, Qatar, dan kawan-kawan sepakat menyatakan dukungan terhadap Trump. Dalam pernyataan bersama, mereka menyebutnya sebagai “upaya tulus untuk mengakhiri perang Gaza”. Tulus. Ya, kata yang biasanya dipakai untuk menggambarkan anak SD yang menyumbang uang jajan untuk korban bencana, kini dipinjam untuk menggambarkan Trump.

Al Jazeera mencatat pernyataan lebih lanjut: “Kami yakin pada kemampuan Trump untuk menemukan jalan menuju perdamaian.” Sebuah keyakinan yang, jika diucapkan dengan wajah serius, bisa jadi bahan stand-up politik global.

Negara-negara tersebut juga menekankan pentingnya bermitra dengan Washington untuk “mengonsolidasikan perdamaian”. Dalam terjemahan bebas: selamat datang investasi, kontrak militer, dan perjanjian dagang.

Tak berhenti di situ, pernyataan itu bahkan menyambut baik pengumuman Trump tentang rekonstruksi Gaza dan pencegahan pengungsian warga Palestina. Sebuah kalimat yang manis, seolah-olah mesin perang yang sudah menghancurkan Gaza kini siap turun tangan membangunnya kembali, tentu dengan tender-tender yang pasti tidak gratis.

Otoritas Palestina: “Kami Percaya”

Lebih jauh, Otoritas Palestina juga ikut dalam koor pujian. Dalam pernyataannya, mereka menyebut sangat penting mencapai kesepakatan komprehensif yang menjamin bantuan kemanusiaan dan penghentian pelanggaran Israel. Sebuah kalimat standar diplomasi yang dibungkus indah, meski sudah kita dengar seribu kali tanpa hasil.

Mereka juga berjanji akan melakukan reformasi, termasuk menyelenggarakan Pemilu dalam waktu setahun setelah perang. Janji yang terdengar modern, tapi, mari realistis: kalender politik Palestina sering kali lebih lentur daripada karet gelang.

Erdogan: “Saya Menghargai Upaya Trump”

Tak mau ketinggalan, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menambahkan lapisan glazur diplomatik. “Saya menghargai upaya dan kepemimpinan Trump untuk menghentikan pertumpahan darah di Gaza,” katanya. Ia juga menegaskan Turki akan terus berupaya membangun perdamaian yang adil.

Erdogan, seperti biasa, bermain di garis tipis antara kritik dan pelukan diplomatik, mungkin sambil mengukur seberapa besar ruang manuver politik yang masih bisa digarap.

Perdamaian atau Parodi?

Begitulah parade pernyataan. Dunia Arab dan Islam, setidaknya secara resmi, memilih menyambut tangan Trump, atau lebih tepatnya, dompet Trump. Semua terdengar manis, penuh kata-kata bombastis: perdamaian, rekonstruksi, komprehensif, tulus…

Akan tetap, di balik layar, Gaza tetap hancur, warga sipil tetap menderita, dan realitas politik tetap dikendalikan Washington dan Tel Aviv.

Trump mungkin menyebutnya “Dewan Perdamaian”. Dunia menyebutnya… rebranding perang dengan font baru.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *