Negosiasi Langsung Lebanon-Israel di Washington Gagal Wujudkan Tuntutan Apa pun
POROS PERLAWANAN – Sebuah sumber resmi Lebanon mengatakan kepada al-Mayadeen, delegasi militer Lebanon yang bertugas dalam negosiasi dengan Israel tidak berhasil mewujudkan tuntutannya untuk mewujudkan gencatan senjata yang sesungguhnya dalam pertemuan di Pentagon.
Dikutip Fars dari al-Mayadeen, menurut sumber tersebut, delegasi militer Lebanon bersikeras selama pembicaraan mengenai perlunya gencatan senjata, namun mendapat penolakan berulang kali dari pihak Israel.
Sumber tersebut juga menambahkan, delegasi Israel menentang penarikan pasukan dari wilayah Lebanon yang diduduki dan bersikeras pada “perlucutan senjata Hizbullah”.
Delegasi militer Lebanon, yang dipimpin oleh Direktur Operasi Angkatan Darat Lebanon Brigadir Jenderal George Rizqallah bertemu dan bernegosiasi pada Jumat 29 Mei dengan delegasi Israel, yang dipimpin oleh Kepala Divisi Strategis di Direktorat Perencanaan Angkatan Darat Israel Amichai Levin di Kementerian Perang AS (Pentagon).
Pertemuan tersebut digelar setelah perpanjangan gencatan senjata selama 45 hari (pada 15 Mei) dan sebagai pembuka bagi putaran pembicaraan politik berikutnya (pada 2 dan 3 Juni di Kementerian Luar Negeri AS).
Ini juga merupakan pertemuan militer langsung pertama antara kedua belah pihak dalam puluhan tahun, yang diselenggarakan di bawah mediasi AS. Pertemuan ini akan disusul oleh pertemuan politik langsung; negosiasi yang digambarkan oleh Hizbullah Lebanon sebagai “kebodohan” dan “pemberian hadiah gratis kepada musuh”.
Perundingan pada hari Jumat kemarin berlangsung di saat Militer Israel memperluas serangannya ke selatan dan timur Lebanon, serta pinggiran selatan Beirut. Netanyahu juga mengumumkan bahwa operasi tersebut akan berlanjut melampaui “zona penyangga”, bahkan ke Beirut dan Lembah Bekaa.
Semua kondisi ini membuat Hizbullah Lebanon menolak segala klaim gencatan senjata, karena mereka memandangnya sekadar sebagai kedok politik bagi kejahatan yang terus dilakukan oleh pihak Pendudukan.
Sehubungan dengan ini, Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qasim dalam statemen terbarunya menandaskan bahwa tidak ada gencatan senjata di Lebanon.
“Yang ada hanyalah agresi Israel-Amerika yang terus-menerus. Lebanon adalah pihak yang diserang, dan Lebanonlah yang membutuhkan jaminan untuk menjaga keamanan dan kedaulatannya,” tegasnya.
Dalam wawancara dengan al-Jazeera, seorang pejabat senior Hizbullah mengatakan bahwa eskalasi serangan dan tindakan-tindakan Rezim Israel telah memperluas cakupan perang dan menunjukkan kesia-siaan negosiasi langsung. Ia juga mengatakan, Pemerintah Lebanon harus mengambil sikap tegas dan meninggalkan netralitas di hadapan serangan yang semakin meningkat dari Rezim Zionis.
