Dukung Agresi ke Iran, Prancis Kini Dihantam Gelombang Krisis dan Inflasi
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, Prancis mulai merasakan langsung gelombang balik dari perang yang dipicu blok AS-Israel terhadap Iran. Di tengah krisis ekonomi yang semakin menekan rakyat pekerja, Pemerintah di Paris memilih membekukan hampir 4 miliar Euro anggaran negara demi menahan dampak gejolak perang yang kini mengguncang pasar energi dan stabilitas Kawasan.
Langkah darurat itu diumumkan setelah Pemerintah Prancis menyadari bahwa keterlibatan Barat dalam eskalasi konflik Timur Tengah bukan hanya menimbulkan ancaman geopolitik, melainkan juga menghantam fondasi ekonomi domestik mereka sendiri. Menteri Delegasi untuk Akun Publik, David Amiel mengakui Pemerintah terpaksa mengambil kebijakan penghematan besar-besaran untuk mengantisipasi memburuknya situasi ekonomi akibat perang terhadap Iran.
Kementerian Ekonomi dan Keuangan Prancis menyatakan bahwa sekitar 3,2 miliar Euro anggaran Kementerian dibekukan sementara, ditambah pembatalan alokasi sebesar 847 juta Euro. Hampir seluruh kementerian terdampak pemotongan ini, kecuali sektor pertahanan dan peradilan yang tetap diprioritaskan di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Keputusan tersebut memperlihatkan bagaimana negara-negara Eropa kini semakin terseret dalam biaya mahal perang yang mereka dukung secara politik. Sementara anggaran sosial ditekan, sektor militer justru tetap menjadi prioritas utama Pemerintah Prancis.
Pekan lalu, Paris juga menunda rencana pengurangan kontribusi jaminan sosial bagi pekerja berpenghasilan rendah. Kebijakan itu diklaim mampu menghemat sekitar 2,2 miliar Euro. Secara keseluruhan, Pemerintah berharap dapat memangkas pengeluaran hingga 6 miliar Euro melalui kombinasi pemotongan anggaran kementerian dan program sosial.
Namun beban sebenarnya diperkirakan akan jatuh ke pundak rakyat biasa. Organisasi konsumen UFC-Que Choisir memperingatkan harga barang di Prancis dapat melonjak antara 4 hingga 5 persen dalam beberapa bulan mendatang. Krisis energi akibat blokade Selat Hormuz disebut menjadi salah satu pemicu utama lonjakan biaya hidup di seluruh Eropa.
Data terbaru dari Badan Statistik Nasional, INSEE juga menunjukkan ekonomi Prancis nyaris mandek. Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu tercatat tidak mengalami pertumbuhan sepanjang Januari hingga Maret 2026. Situasi ini mempertegas bahwa perang telah berubah menjadi bom waktu ekonomi bagi Eropa sendiri.
Gelombang pesimisme pun meluas di tengah masyarakat. Survei Ipsos dan CESI menunjukkan 91 persen warga Prancis merasa pesimis terhadap kondisi ekonomi negara mereka. Sementara hampir 70 persen responden mengaku cemas terhadap kondisi keuangan pribadi mereka akibat naiknya harga kebutuhan hidup dan ketidakpastian ekonomi.
Ironisnya, ketika rakyat dipaksa menanggung penghematan dan ancaman inflasi, elite politik Eropa tetap mempertahankan agenda konfrontasi yang justru memperdalam krisis. Perang yang diklaim demi stabilitas kini berbalik menghantam jantung ekonomi negara-negara pendukungnya sendiri.
