Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Netanyahu Akui Target Utama Israel di Iran Belum Tercapai

POROS PERLAWANAN — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengakui bahwa perang melawan Iran belum berakhir, meskipun Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan operasi militer besar-besaran selama lebih dari 40 hari. Pengakuan ini mengindikasikan bahwa sejumlah target utama yang sebelumnya dideklarasikan oleh Tel Aviv dan Washington masih belum tercapai.

Berdasarkan laporan Fars News Agency pada Minggu, 10 Mei 2026, Netanyahu menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan program 60 Minutes milik CBS News.

“Saya kira perang melawan Iran telah menghasilkan banyak pencapaian, tetapi perang ini belum selesai. Masih ada material nuklir, termasuk uranium yang diperkaya, yang harus dikeluarkan dari Iran,” ujar Netanyahu.

Pada 28 Februari 2026, ketika Teheran dan Washington masih dalam proses negosiasi terkait program nuklir Iran, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan perang besar-besaran terhadap Iran.

Pemerintahan Donald Trump dan Netanyahu sebelumnya diyakini memperkirakan bahwa sistem politik Iran akan runtuh dalam hitungan hari, dan negara itu akan memasuki fase disintegrasi. Namun, setelah perang berlangsung selama 40 hari, target tersebut tidak tercapai.

Sebaliknya, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah target Amerika Serikat dan Israel. Teheran juga memperketat kontrol atas Selat Hormuz dan menutup jalur tersebut bagi kapal-kapal yang dianggap bermusuhan.

Dalam wawancara yang sama, Netanyahu mengakui bahwa masih terdapat fasilitas pengayaan uranium di Iran serta jaringan kelompok-kelompok sekutu Teheran di kawasan yang belum berhasil dilumpuhkan.

Ia juga menyebut bahwa Iran masih memiliki program pengembangan rudal balistik yang terus berjalan.

“Masih ada rudal balistik yang ingin diproduksi oleh Iran. Semua persoalan ini masih ada, dan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” ujarnya.

Pernyataan Netanyahu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah, setelah perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memicu perubahan besar dalam peta geopolitik regional.

Sejumlah analis menilai bahwa pengakuan Netanyahu menunjukkan operasi militer gabungan Washington dan Tel Aviv gagal mencapai tujuan strategis utamanya, termasuk menghentikan program pertahanan Iran dan melemahkan pengaruh regional Teheran.

Tags: