Trump: Iran Akan Lebih Kuat Jika Qassim Soleimani Tidak Dibunuh
POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyinggung operasi pembunuhan Komandan Pasukan Quds Iran, Letjen Qassim Soleimani. Trump menyatakan Iran akan menjadi negara yang “lebih kuat” apabila Soleimani masih hidup.
Menurut laporan Fars News Agency pada Minggu, 10 Mei 2026, pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan program Full Measure.
Dalam wawancara tersebut, Trump membanggakan sejumlah kebijakan utamanya pada periode pertama pemerintahan, termasuk pembatalan kesepakatan nuklir Iran era Presiden Barack Obama dan operasi militer yang menewaskan Soleimani.
“Saya membatalkan kesepakatan nuklir buruk pada masa Barack Hussein Obama di periode pertama saya. Saya membunuh Soleimani. Itu sangat penting,” kata Trump.
Trump juga mengklaim bahwa kematian Soleimani berdampak besar terhadap posisi strategis Iran di kawasan.
“Jika saya tidak membunuhnya, saya pikir Iran akan menjadi negara yang berbeda. Mereka akan jauh lebih kuat,” ujarnya.
Syahid Qassim Soleimani merupakan Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC dan dikenal sebagai salah satu tokoh militer paling berpengaruh di kawasan Timur Tengah.
Soleimani gugur pada Januari 2020 dalam serangan drone Amerika Serikat di dekat Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada masa pemerintahan pertama Donald Trump.
Saat itu, Soleimani diketahui berada di Irak atas undangan resmi pemerintah Baghdad. Serangan tersebut juga menewaskan Wakil Komandan Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak atau PMF, Abu Mahdi al-Muhandis, beserta sejumlah anggota lainnya.
Operasi militer Amerika Serikat tersebut memicu ketegangan besar di Timur Tengah dan mendorong Iran melancarkan serangan rudal balasan terhadap pangkalan militer AS di Irak beberapa hari kemudian.
Di Iran dan kelompok Poros Perlawanan kawasan, Qassim Soleimani dipandang sebagai tokoh utama dalam perlawanan terhadap kelompok ekstremis serta pengaruh militer Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
