Kelompok HAM Sebut Ben-Gvir “Algojo Abad Ini”
POROS PERLAWANAN — Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menuai kecaman keras setelah kembali mendorong legislasi hukuman mati terhadap tahanan Palestina. Bahkan, kelompok hak asasi manusia Red Ribbons Campaign menyebut politikus sayap kanan Israel itu sebagai “algojo abad ini”.
Berdasarkan pernyataan Red Ribbons Campaign yang dirilis pada Minggu, 10 Mei 2026, sebagaimana dilansir Press TV, kelompok tersebut mengecam keras upaya Ben-Gvir untuk memperluas penerapan hukuman mati terhadap warga Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Red Ribbons Campaign menilai bahwa Ben-Gvir terus mempromosikan kebijakan diskriminatif dan rasis terhadap rakyat Palestina, serta secara terbuka menyerukan eksekusi terhadap para tahanan.
“Ben-Gvir pantas menyandang gelar suram sebagai ‘algojo abad ini’ karena upayanya mempromosikan apartheid dan rasisme terhadap Palestina, serta karena seruannya untuk menggantung dan membunuh tahanan Palestina dengan berbagai cara,” demikian pernyataan kelompok HAM tersebut.
Mereka juga memperingatkan bahwa banyak tahanan Palestina kini berpotensi menghadapi ancaman hukuman mati apabila rancangan undang-undang tersebut diberlakukan secara luas.
Kontroversi semakin memanas setelah Ben-Gvir merayakan ulang tahunnya yang ke-50 awal bulan ini dengan kue bergambar tali gantungan, lengkap dengan tulisan dalam bahasa Ibrani yang berarti, “Mimpi terkadang menjadi kenyataan.”
Desain tersebut diduga merujuk pada pemungutan suara di parlemen Israel pada Maret 2026 terkait rancangan undang-undang hukuman mati bagi tahanan Palestina.
Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, turut mengecam tindakan Ben-Gvir.
“Saya muak melihat seorang menteri Israel memuliakan kekerasan dengan simbol tali gantungan pada pakaian dan kue ulang tahunnya,” ujar Türk.
Ben-Gvir selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh paling garis keras dalam kabinet Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia berulang kali menuntut pengetatan kondisi penjara bagi warga Palestina dan menolak hampir seluruh upaya deeskalasi perang di Gaza.
Politikus ultranasionalis itu juga beberapa kali mengancam akan membubarkan koalisi pemerintahan Netanyahu setiap kali pembicaraan gencatan senjata menunjukkan kemajuan. Baginya, menghentikan perang di Gaza dianggap sebagai bentuk “penyerahan diri”.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ben-Gvir juga kerap memimpin aksi provokatif pemukim Israel ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki, tindakan yang memicu kecaman luas dari dunia Islam dan komunitas internasional.
