Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Netanyahu Mulai Cari-cari Dalih untuk Ulangi Kejahatannya di Gaza

Netanyahu Mulai Cari-cari Dalih untuk Ulangi Kejahatannya di Gaza

POROS PERLAWANAN – Di saat banyak lembaga internasional telah memperingatkan bahwa Rezim Zionis sedang mencari-cari dalih untuk melakukan kembali kejahatan terhadap rakyat Gaza, Perdana Menteri Israel sendiri mengakui hal tersebut.

Dilaporkan Fars, dalam wawancara khusus dengan jaringan berita Amerika Serikat, CBS News, Benyamin Netanyahu kembali menggunakan bahasa ancaman terhadap Palestina dan Hamas.

Dia mengaku berharap bahwa tahap berikutnya dari kesepakatan antara Israel dan Hamas akan berlanjut secara damai. Tapi dia menegaskan bahwa syarat-syarat Presiden Trump “sangat jelas” dan menambahkan,”Hamas harus menyerahkan senjatanya. Jika tidak, neraka akan datang.”

Sehari setelah kunjungan singkat Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Tel Aviv untuk mengumumkan pelaksanaan tahap pertama “Proposal 20 Poin Perdamaian untuk Gaza”, Netanyahu pada Selasa 14 Oktober mengatakan, “Kami sepakat untuk memberikan kesempatan bagi perdamaian.”

Meskipun gencatan senjata di Gaza telah diberlakukan, Rezim Zionis pada hari Rabu ini masih tetap menutup Jalur Rafah. Banyak organisasi kemanusiaan di dunia telah mengekspresikan keraguan mereka mengenai keberlanjutan gencatan senjata ini dan komitmen Israel terhadap janji-janjinya.

Di sisi lain, Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Wilayah Pendudukan, Francesca Albanese dalam sebuah pesan di platform media sosial X, memperingatkan tentang penyalahgunaan istilah “perdamaian” dalam menggambarkan situasi di Gaza.

Dia merujuk pada kesepakatan proposal Trump mengenai gencatan senjata di Gaza dan mengatakan,“Mereka menyebutnya perdamaian. Tapi bagi orang Palestina, ini bisa menjadi bentuk apartheid yang paling buruk.”

Trump dalam kunjungannya ke wilayah yang diduduki telah menyatakan bahwa “perang telah berakhir.”

Sekarang, setelah Hamas mematuhi komitmennya terkait pembebasan tawanan Israel, Netanyahu dalam wawancara tersebut mengatakan bahwa langkah selanjutnya haruslah pelucutan senjata dan demiliterisasi.

Dalam wawancara khusus dengan CBS News di Tel Aviv, ia mengatakan, “Pertama, Hamas harus menyerahkan senjatanya. Kedua, kita harus memastikan tidak ada pabrik senjata di dalam Gaza dan tidak ada penyelundupan senjata ke dalam Gaza. Ini berarti pelucutan senjata.”

Hamas sendiri telah menolak tegas permintaan untuk menyerahkan senjatanya. Pejabat senior Hamas, Mohammad Nazzal, sebelum ini menegaskan bahwa perlucutan senjata bukanlah pilihan selama tanah Palestina masih berada dalam cengkeraman penjajahan Zionis. Seruan internasional untuk melucuti kekuatan militer perlawanan, menurutnya, adalah bentuk penyerahan yang tidak akan pernah diterima oleh rakyat yang memilih jalan kehormatan.

“Pertanyaan tentang senjata perlawanan tidak bisa dipisahkan dari fakta bahwa pendudukan masih berlangsung,” tegas Nazzal dalam wawancara dengan RIA Novosti. “Ketika penjajahan berakhir, senjata tidak lagi diperlukan. Tapi selama musuh masih menginjakkan kaki di tanah kami, senjata adalah hak dan kewajiban.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *