New York Times Ungkap ‘Kondisi Mengenaskan’ Para Awak Kapal Induk AS USS Gerald R. Ford
POROS PERLAWANAN – Mengutip dari sejumlah pejabat AS, New York Times dalam laporan terbarunya memberitakan bahwa para awak kapal di atas kapal induk USS Gerald R. Ford, yang kini telah memasuki bulan kesepuluh penugasannya, pada pekan lalu berjuang memadamkan api di kapal tersebut selama lebih dari 30 jam.
Tasnim memberitakan, kebakaran kecil yang bermula di ruang laundry utama kapal tersebut menyebar melalui sistem ventilasi ke beberapa bagian lain kapal, termasuk beberapa area tempat tidur awak kapal.
New York Times melaporkan bahwa lebih dari 600 awak kapal dan anggota kru lainnya kehilangan tempat tidur mereka akibat kebakaran tersebut dan sejak itu terpaksa tidur di lantai dan di atas meja di seluruh penjuru kapal.
Sementara itu, Menlu Iran, Abbas Araghchi pada Senin malam 16 Maret melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Sekjen PBB, António Guterres untuk membahas dan bertukar pandangan mengenai perkembangan terkini di kawasan tersebut, agresi militer yang sedang berlangsung oleh Amerika Serikat dan Rezim Zionis terhadap Iran, serta perkembangan di Lebanon.
Merujuk pada pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip dan aturan dasar Piagam PBB serta hukum internasional oleh agresi militer Amerika Serikat dan Rezim Zionis terhadap Iran, Araghchi mengingatkan PBB dan Sekretaris Jenderal ihwal tanggung jawab mereka untuk secara tegas dan eksplisit mengutuk agresi ini serta menuntut pertanggungjawaban para agresor sesuai dengan Bab Tujuh Piagam.
Ia menyeru komunitas internasional untuk memperhatikan sumber utama ketidakamanan yang ditimpakan pada kawasan dan Selat Hormuz, yaitu agresi militer Amerika Serikat dan Rezim Zionis.
“Situasi di Selat Hormuz tidak dapat dipandang terpisah dari situasi regional yang lebih luas, karena gangguan terhadap pelayaran di selat tersebut berasal dari perang yang dipaksakan oleh AS dan Rezim Zionis. Setiap negara atau badan internasional yang peduli terhadap perdamaian dan keamanan harus, secara bertanggung jawab dan tanpa kompromi, mengutuk kejahatan kedua rezim ini dan menuntut diakhirinya agresi militer mereka terhadap bangsa Iran,” tegas Araghchi.
Sambil mengecam agresi brutal rezim Zionis terhadap Lebanon dan pembantaian ratusan warganya, Menlu Iran menekankan bahwa kelalaian dan ketidakpedulian yang terus-menerus terhadap pelanggaran kriminal Israel di wilayah Palestina yang diduduki serta terhadap negara-negara di Kawasan hanya akan memperluas cakupan agresi Rezim tersebut serta memperparah ketidakamanan di Kawasan dan dunia.
