Pakar Israel: Teroris Suriah Berencana Buka Kedutaan Israel di Damaskus dan Beirut
POROS PERLAWANAN – Pakar Timur Tengah asal Israel, Mordechai Kedar, kepada lembaga penyiaran publik Israel mengatakan, bahwa sejumlah pemimpin teroris Suriah tengah merencanakan pembukaan kedutaan Israel di Damaskus dan Beirut. Pernyataan ini mempertegas hubungan Israel dengan kelompok-kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Menukil laporan al-Mayadeen pada Senin 02 Desember, menurut Kedar, pengamat kebijakan Timur Tengah, dirinya secara rutin berkomunikasi dengan apa yang ia sebut sebagai “pemimpin oposisi Suriah.” Dikatakannya, berdasarkan pengamatannya, kelompok-kelompok ini tidak lagi menganggap Israel sebagai musuh.
Dalam wawancaranya dengan media, Kedar mengungkapkan, kelompok-kelompok bersenjata ini telah menyatakan keinginan untuk menjalin hubungan resmi dengan Israel.
“Kelompok ini menganggap Israel sebagai solusi atas konflik di kawasan, bukan sebagai masalah,” tegas Kedar. Ia juga menambahkan, para pemberontak tersebut siap menandatangani kesepakatan damai dengan Israel, tetapi hanya jika mereka berhasil mengambil alih kendali penuh atas Suriah dan Lebanon.
“Saya terus menjalin komunikasi langsung dengan pemberontak di Suriah. Bahkan, saya telah menyampaikan kepada para pejabat Israel daftar rinci kebutuhan logistik dan senjata yang diminta kelompok tersebut dari Israel.”
Israel Pantau Situasi Suriah Secara Intensif
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan terus memantau perkembangan situasi di Suriah selama 24 jam tanpa henti.
Sejak Rabu lalu, pasca-pengumuman gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel di Lebanon—yang dinilai sebagai kegagalan Israel dalam mencapai tujuannya di medan perang Lebanon—kelompok-kelompok teroris Takfiri di Suriah yang tergabung dalam “Hai’ah Tahrir al-Sham” mulai melancarkan serangan besar-besaran.
Serangan ini didukung oleh ribuan militan asing, persenjataan berat, dan drone dalam jumlah besar. Mereka mengarahkan serangannya ke sejumlah wilayah strategis di Aleppo, Idlib, dan Hama.
Serangan ini, yang berlangsung dari berbagai arah, menegaskan kembali bahwa eskalasi konflik di Suriah memiliki keterkaitan erat dengan dinamika regional, termasuk kepentingan Israel dalam menjaga ketegangan di kawasan tersebut.
Keberadaan kelompok bersenjata yang dilaporkan memiliki hubungan langsung dengan Israel menimbulkan banyak tanda tanya mengenai agenda sebenarnya dari pihak-pihak yang terlibat.
