Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Panglima CENTCOM: IRGC Masih Memainkan Perang Penting di Iran

POROS PERLAWANAN — Panglima Komando Pusat Amerika Serikat atau United States Central Command (CENTCOM), Brad Cooper, mengakui Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) masih memiliki pengaruh besar di Iran meskipun Amerika Serikat telah melancarkan serangan militer dan menimbulkan kerusakan terhadap kekuatan militer Teheran.

Menurut laporan IRNA pada Kamis (14/5/2026) waktu setempat, Cooper menyampaikan pengakuan tersebut dalam sidang dengar pendapat di Senat Amerika Serikat.

“Meski militer Amerika menyerang pasukan Iran dan menimbulkan kerusakan, IRGC masih memainkan peran penting dalam pemerintahan Iran,” kata Cooper saat menjawab pertanyaan Senator Angus King dari negara bagian Maine.

Cooper mengatakan IRGC masih memiliki “otoritas yang signifikan” dalam struktur kekuasaan Iran. Namun ketika ditanya apakah IRGC terlibat dalam proses perundingan damai, ia menyerahkan persoalan itu kepada diplomat dan negosiator.

Dalam keterangannya, Cooper juga mengklaim ancaman Iran telah melemah dibanding sebelumnya dan tidak lagi mampu mengancam sekutu regional Amerika Serikat seperti sebelum perang.

Meski demikian, ia tetap mengakui Iran masih memiliki kemampuan untuk merespons serangan militer terhadap negaranya.

Saat ditanya anggota parlemen mengenai kemampuan balasan Iran setelah perang terbaru, Cooper berusaha menggambarkan kemampuan tersebut sebagai “terbatas” dan “relatif moderat”.

Cooper juga mengklaim bahwa dalam 30 bulan sebelum perang melawan Iran, kelompok-kelompok perlawanan di kawasan telah melancarkan lebih dari 350 serangan terhadap pasukan dan diplomat Amerika Serikat.

“Rata-rata terjadi satu serangan setiap tiga hari dan menyebabkan empat tentara Amerika tewas,” ujarnya.

Ia selanjutnya mengklaim dukungan persenjataan terhadap Hamas, Hizbullah, dan Ansarullah telah terputus, meski menurutnya hasil tersebut sebelumnya tidak dijamin akan tercapai.

Dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, Cooper juga menyatakan Amerika Serikat memiliki kemampuan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz secara permanen apabila diperlukan.

Namun ketika Senator Demokrat Elissa Slotkin mempertanyakan mengapa langkah tersebut belum dilakukan di tengah kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat, Cooper menyerahkan keputusan itu kepada kalangan politik dan menyinggung proses negosiasi damai yang sedang berlangsung.

Cooper juga mengakui Iran masih mampu memengaruhi jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk Persia.

“Suara mereka sangat keras dan ancaman mereka didengar dengan jelas oleh industri pelayaran dan perusahaan asuransi,” katanya.

Ia menambahkan militer Amerika memiliki berbagai skenario operasional untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan para pembuat kebijakan.

Dalam sidang tersebut, Cooper mengungkapkan militer Amerika banyak mempelajari taktik perang dari pengalaman tentara Ukraina dalam menghadapi Rusia dan menerapkannya dalam perang melawan Iran.

“Kami menggunakan banyak taktik, teknik, dan prosedur yang diberikan Ukraina kepada kami dan itu membantu kami dalam melindungi warga Amerika,” ujarnya.

Di sisi lain, Cooper mengklaim pengurangan korban sipil menjadi perhatian utama CENTCOM. Namun ia mengakui kantor khusus di bawah CENTCOM yang fokus pada pengurangan korban sipil telah dipangkas dari 10 staf menjadi satu orang dan dilebur ke struktur organisasi lain.

Ketika ditanya anggota parlemen Demokrat mengenai estimasi korban sipil dalam perang melawan Iran, Cooper menolak memberikan angka.

Ia juga mengatakan laporan mengenai pengeboman sekolah di Minab, Iran, masih dalam penyelidikan dan mengklaim belum ada bukti yang mengonfirmasi laporan pengeboman sejumlah sekolah dan rumah sakit lainnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *