Panglima Tertinggi IRGC: Rudal Iran Perlu Dilengkapi Teknologi Siluman
POROS PERLAWANAN — Panglima Tertinggi IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Pakpour menegaskan bahwa peningkatan kemampuan rudal Iran membutuhkan integrasi teknologi siluman untuk memperbesar peluang menembus sistem pertahanan udara Rezim Zionis.
Menurut Kantor Berita Tasnim pada Minggu 7 Desember, Jenderal Pakpour menyampaikan pidato pada konferensi “Tentara Era Kemunculan (Imam Mahdi)” yang digelar untuk memperingati Hari Mahasiswa serta mengenang para martir Universitas Imam Hussein (a.s).
Perang 12 Hari dan Kegagalan Rencana Musuh
Dalam pidatonya, Jenderal Pakpour menjelaskan bahwa ketika Perang 12 Hari terhadap Republik Islam dimulai oleh Rezim Zionis dan Amerika Serikat yang menurutnya telah melakukan koordinasi sebelumnya, mereka memperkirakan konflik akan berkembang menjadi perang gabungan dalam tiga hari pertama. Skenarionya: pusat komando dan fasilitas rudal Iran dihancurkan dari udara, sementara kelompok separatis dan teroris memicu kekacauan di dalam negeri.
Ia menambahkan bahwa selama hari-hari awal konflik, Netanyahu menyatakan bahwa rakyat Iran harus “menentukan tugas mereka”, namun yang terjadi justru kebalikannya, rakyat Iran menunjukkan persatuan yang makin solid.
Jenderal Pakpour menjelaskan bahwa musuh berasumsi keruntuhan komando Iran akan terjadi jika empat tokoh kunci; Jenderal Salami, Rashid, Bagheri, dan Hajizadeh diserang dan dibunuh. Namun, pada dini hari ketika serangan terjadi, Panglima Tertinggi langsung mengeluarkan perintah darurat, menunjuk penerus komando, dan memastikan operasi berjalan tanpa jeda. “Mereka mengira sistem komando runtuh, tetapi semuanya pulih dalam hitungan jam,” ujarnya.
Respons Rudal Iran dan Serangan ke Al-Udeid
Jenderal Pakpour menegaskan bahwa setelah pengangkatannya sebagai Panglima Tertinggi IRGC, operasi kontra-serangan dilakukan secara simultan. Musuh, katanya, mengira Iran hanya akan menembakkan lima atau enam rudal pada hari pertama. Namun, pada malam pertama saja gelombang ratusan drone dan rudal balistik menghantam target di wilayah Rezim Zionis, dan intensitas serangan meningkat setiap hari.
Ia juga mengungkapkan bahwa sehari setelah fasilitas nuklir Natanz dan Fordow diserang Amerika, Teheran memutuskan untuk menyerang balik. Meski sejumlah negara mencoba bermediasi, Iran tetap meluncurkan 14 rudal ke pangkalan udara Al-Udeid di Qatar, sebagai pangkalan paling vital milik AS di Kawasan. Beberapa jam kemudian, Washington menyatakan bahwa mereka tidak akan melanjutkan serangan jika Iran tidak membalas lagi.
Menurut Jenderal Pakpour, pada titik itu Amerika dan Rezim Zionis menyadari bahwa tujuan strategis mereka dalam perang tersebut gagal total. Mereka salah mengira bahwa serangan terhadap tokoh Militer Iran akan memicu kerusuhan internal, padahal yang terjadi justru meningkatnya kohesi nasional.
Empat Faktor Keberhasilan Iran
Jenderal Pakpour menyebut empat faktor utama kemenangan Iran dalam perang 12 hari:
1. Rahmat dan bantuan Ilahi
2. Kebijaksanaan dan ketenangan kepemimpinan politik–militer Iran, terutama pada jam-jam pertama perang
3. Persatuan rakyat, yang menurutnya belum pernah terlihat setinggi itu
4. Respons rudal yang cepat dan akurat, yang setiap kali menjadi jawaban langsung atas serangan musuh.
Ia menegaskan bahwa berdasarkan informasi intelijen, tekanan rakyat Zionis terhadap pemerintah mereka untuk menghentikan perang meningkat drastis setelah rudal Iran menghantam target-target strategis.
Perang Teknologi dan Pentingnya Kecerdasan Buatan
Jenderal Pakpour menggambarkan Perang 12 Hari sebagai “perang teknologi melawan teknologi”, ketika Iran harus berhadapan bukan hanya dengan Rezim Zionis, melainkan juga kekuatan-kekuatan besar seperti Amerika dan Eropa.
Ia menyoroti bahwa kecerdasan buatan (AI) telah menjadi faktor fundamental dalam intelijen, pengawasan, serta penentuan target. Karena itu, pusat-pusat ilmiah IRGC, termasuk Universitas Imam Hussein harus memperkuat koordinasi dengan komandan lapangan untuk memenuhi kebutuhan teknologi pertempuran yang terus berkembang.
Kesiapan, Gencatan Senjata, dan Ancaman Balasan
Jenderal Pakpour menegaskan bahwa meski kini berada dalam kondisi gencatan senjata, musuh memahami bahwa setiap agresi baru akan mendapat respons Iran yang “lebih keras dan lebih menghancurkan” dibandingkan sebelumnya. Ia menekankan perlunya menjaga kesiapsiagaan karena musuh juga telah memperbaiki kelemahan mereka sejak perang itu.
Menurutnya, Iran harus memikirkan teknologi, teknik, dan taktik baru, dan lembaga-lembaga ilmiah IRGC memiliki peran besar dalam proses ini.
Teknologi Siluman untuk Rudal Iran
Jenderal Pakpour menegaskan perlunya investasi besar pada teknologi siluman: “Jika kita dapat melengkapi rudal kita dengan teknologi siluman, kita pasti dapat meningkatkan kemampuan rudal kita menembus perisai pertahanan Rezim Zionis.”
Ia juga menyebut Universitas Imam Hussein sebagai institusi yang harus mempercepat penelitian di bidang pertahanan udara dan teknologi siluman.
Komitmen terhadap Sistem dan Para Syuhada
Mengakhiri pidatonya, Jenderal Pakpour menyampaikan pesan kepada keluarga para syuhada: “Sebagai prajurit sistem dan prajurit kalian, kami tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada sistem ini. Selama darah dan nyawa masih ada, kami akan melanjutkan jalan para syuhada dan tetap berdiri bersama Republik Islam.”
