Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Para Pelaku Genosida dan Ironi Kelam HAM di Barat

Para Pelaku Genosida dan Ironi Kelam HAM di Barat

POROS PERLAWANAN – Ketika HAM menjadi alat tekan politik terhadap pihak lain, imperium media Rezim Hegemoni berupaya mencitrakan para pelanggar sistematis HAM sebagai “pembela HAM”.

Hal ini disampaikan Jubir Kemenlu Iran, Naser Kanani saat menanggapi standar ganda negara-negara Barat, terutama AS dan Kanada, yang mengaku sebagai pembela HAM.

Dilansir al-Alam, Kanani kembali mengingatkan kisah pilu perpisahan paksa lebih dari 150 ribu anak pribumi Kanada dari keluarga mereka, juga ditemukannya kuburan-kuburan massal ratusan siswa sekolah asrama sekitar tahun lalu. Ia mengatakan, HAM di Kanada adalah perwujudan pembunuhan anak dan ketidakpedulian terhadap kemanusiaan.

Kuburan anak-anak adalah model “genosida budaya” di Kanada. Ini berkaitan dengan kisah yang terjadi pada 1820 saat Pemerintah Kanada berusaha menghapus semua budaya Indian lokal dan menggantinya dengan yang dibawa kulit putih Eropa ke Kanada.

Ada 600 suku pribumi yang tinggal di Kanada sebelum tibanya para imigran Eropa. Sebab itu, para imigran ini menghendaki perubahan sosial dan budaya.

Sejak 1820 hingga ditutupnya semua sekolah asrama Indian, sekitar 150 ribu anak pribumi telah dipisahkan secara paksa dari orangtua mereka. Mereka mengalami penyiksaan fisik dan psikis di asrama-asrama tersebut. Sebagai contoh, para siswa yang meninggal karena sakit dan gizi buruk ini dipendam di kubur-kubur tanpa nama.

Diperkirakan bahwa sekitar 4 ribu anak telah kehilangan nyawa mereka di sekolah-sekolah tersebut. Mereka yang bertahan hidup juga masih menderita akibat apa yang dialami di asrama.

Di lain pihak, Presiden AS, Joe Biden mengaku sebagai pembela HAM. Namun dia mengabaikan semua tuduhan historis terhadap negaranya sekaitan dengan kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, dan genosida.

Kongres AS sebelum ini dalam laporannya menyatakan, jumlah korban kekejaman AS di seluruh dunia selama pendudukannya di berbagai negara tidak kurang dari 2,5 juta orang sipil. Selain itu, sebelum didirikannya AS, suku-suku Indian juga dibantai.

Meski tidak ada statistik rinci terkait jumlah penduduk pribumi Amerika Utara saat orang-orang Eropa datang, namun sebagian riset menunjukkan bahwa populasi warga pribumi Benua Amerika sekira 10 hingga 100 juta jiwa pada 1500 M. Banyak pakar meyakini, mereka berjumlah 50 juta dan sekitar 15 juta di antara mereka adalah suku-suku Indian di Amerika Utara.

Populasi Indian di AS mulai merosot drastis akibat perang, pembantaian massal, dan penyakit menular, sehingga saat berakhirnya perang antara AS dan Indian pada abad ke-19, jumlah mereka kurang dari 238 ribu jiwa. Ini berarti bahwa lebih dari 95 persen populasi penduduk pribumi telah tewas.

Sebagian pakar berpendapat, statistik sebenarnya kematian di Benua Amerika mungkin mencapai 300 juta, namun AS tidak pernah mengadakan upacara untuk mengenang mereka.