Pejabat Pertahanan Iran: Angkatan Bersenjata Berhasil Beri “Kekalahan Bersejarah” kepada Musuh
POROS PERLAWANAN — Pelaksana tugas Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Majid Ibn Reza, menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran berhasil memberikan “kekalahan bersejarah” kepada Amerika Serikat dan Israel dalam dua perang yang disebut dipaksakan terhadap Republik Islam Iran.
Menurut laporan Press TV pada Kamis (28/5/2026), pernyataan tersebut disampaikan dalam pesan yang dikirim kepada para pejabat pertahanan negara-negara Muslim pada Rabu bertepatan dengan perayaan Idul Adha.
Menurut Ibn Reza, Iran dalam kurun waktu kurang dari satu tahun telah dua kali menjadi sasaran agresi militer Amerika Serikat dan Israel.
“Republik Islam Iran diserang dua kali oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Agresi tersebut menyebabkan gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Iran bersama sejumlah komandan militer, pejabat politik, warga sipil, anak-anak, dan mahasiswa, serta menghancurkan sebagian infrastruktur sipil negara,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dengan dukungan rakyat Iran serta dukungan umat Islam dan kelompok pencinta kebebasan di dunia, Angkatan Bersenjata Iran mampu memberikan pukulan besar terhadap kredibilitas dan citra musuh.
“Dengan pertolongan Tuhan dan dukungan bangsa Iran yang heroik, serta umat Islam dan masyarakat pencinta kebebasan di dunia, Angkatan Bersenjata Iran mampu memberikan kekalahan bersejarah terhadap prestise dan kredibilitas musuh,” katanya.
Ibn Reza juga menuduh Amerika Serikat terus memprioritaskan dukungan terhadap Israel yang disebutnya telah selama puluhan tahun menduduki wilayah Palestina dan melakukan pelanggaran terhadap rakyat sipil.
Ia menekankan pentingnya memperkuat persatuan dan kerja sama antarnegara Muslim guna menyelesaikan berbagai persoalan dunia Islam dan mempertahankan hak-hak umat.
Menurutnya, penguatan dialog dan konsensus di antara negara-negara Muslim harus menjadi prioritas utama umat Islam dalam situasi saat ini.
Amerika Serikat dan Israel sebelumnya melancarkan perang terhadap Iran pada Juni 2025 yang berlangsung selama 12 hari. Gelombang konflik kedua dimulai pada akhir Februari 2026 dan berakhir pada awal April setelah tercapainya gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Iran berulang kali menegaskan kesiapan militernya untuk menghadapi setiap kemungkinan agresi baru.
Sejumlah analis menilai operasi balasan Iran dalam konflik tersebut telah memunculkan rasa solidaritas dan kebanggaan di sebagian kalangan dunia Islam.
