Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Pemimpin Tertinggi Iran: Kami Tidak Akan Mengalah terhadap Musuh

POROS PERLAWANAN – Pemimpin Revolusi Islam menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan musuh dan akan terus berdiri tegak dengan dukungan penuh rakyat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan keluarga para syuhada Perang 12 Hari, Sabtu (3/1/26), bertepatan dengan peringatan maulid Amirul Mukminin, Imam Ali bin Abi Thalib (as), serta enam tahun kesyahidan Jenderal Qassim Soleimani, Abu Mahdi al-Muhandis, dan para sahabat mereka.

Pemimpin menegaskan bahwa unjuk rasa merupakan hak rakyat, namun harus dibedakan secara tegas dari tindakan kerusuhan. Beliau menekankan bahwa pejabat negara wajib berdialog dengan para pengunjuk rasa, sementara perusuh yang menciptakan ketidakamanan nasional harus ditindak tegas. Menurutnya, musuh kerap menyusup di balik tuntutan ekonomi yang sah untuk memicu slogan anti-Islam, anti-Iran, dan anti-Republik Islam.

Merespons protes komunitas bisnis terkait merosotnya nilai tukar mata uang nasional dan dampaknya terhadap stabilitas iklim usaha, Ayatullah Khamenei menilai keprihatinan tersebut sebagai hal yang wajar. Beliau menegaskan, “Berunjuk rasa adalah hak, tetapi kerusuhan bukan. Percuma saja berdialog dengan para perusuh. Mereka harus diberi pelajaran.”

Ayatullah Khamenei menyebut para pelaku usaha dan pedagang pasar sebagai unsur yang paling loyal terhadap sistem dan Revolusi Islam. Dan menegaskan tidak boleh ada pihak yang mengatasnamakan pasar atau komunitas bisnis untuk menentang Republik Islam. Presiden dan para pejabat tinggi negara, lanjutnya, saat ini tengah berupaya mencari solusi atas persoalan ekonomi tersebut.

Pemimpin juga mengingatkan bahwa strategi utama musuh adalah pemaksaan kehendak melalui klaim-klaim palsu dan tekanan psikologis. “Ketika musuh berusaha memaksakan kehendaknya kepada suatu bangsa, kita wajib berdiri dan melawannya,” tegasnya. Ayatullah menambahkan bahwa Iran tidak akan menyerah dan, dengan tawakal kepada Allah serta keyakinan pada dukungan rakyat, musuh pada akhirnya akan dipaksa bertekuk lutut.

Dalam konteks perang lunak, Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa penyebaran rumor, kebohongan, infiltrasi, dan penanaman keraguan telah digunakan sejak era Imam Ali (as) untuk melemahkan keteguhan rakyat. Menurutnya, tujuan perang lunak adalah mendemoralisasi bangsa dan memecah persatuan nasional. Namun demikian, bangsa Iran telah berulang kali membuktikan keteguhan mereka di medan-medan sulit dan menggagalkan berbagai skenario musuh.

Menyinggung Perang 12 Hari, Pemimpin menyatakan, musuh terpaksa meminta gencatan senjata karena kekuatan dan kemampuan bangsa Iran. Ia mengingatkan agar tidak mempercayai musuh yang licik dan penipu, seraya menegaskan bahwa pengalaman perang tersebut memperlihatkan wajah asli Amerika, termasuk fakta bahwa perencanaan perang dilakukan di sela-sela proses perundingan.

Sebagai bukti kapasitas nasional, Ayatullah Khamenei menunjuk peluncuran tiga satelit ke orbit serta kemajuan signifikan di berbagai bidang, termasuk kedirgantaraan, bioteknologi, kedokteran, kesehatan, nanoteknologi, dan industri pertahanan. Prestasi tersebut, ujarnya, mencerminkan potensi besar generasi muda Iran yang bertalenta dan berdaya saing tinggi.

Menutup pernyataannya, Pemimpin menekankan pentingnya meneladani keadilan dan ketakwaan Amirul Mukminin, Imam Ali (as), sebagai kebutuhan paling mendesak bagi negara saat ini. Ia juga mengaitkan peringatan maulid Imam Ali (as) dengan kesyahidan Jenderal Qassim Soleimani, seraya menyebut tiga sifat utama sang syahid: iman, keikhlasan, dan aksi nyata. “Haj Qassim selalu hadir di setiap medan yang membutuhkan, tanpa pernah mengejar popularitas atau pujian,” ujarnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *