Penerbit Haaretz Sebut Rakyat Palestina ‘Pejuang Kemerdekaan’ dan Serukan Sanksi atas Israel, Kabinet Netanyahu Kebakaran Jenggot
POROS PERLAWANAN– Dikutip Mehr dari Israel Hayom, setelah pernyataan menghebohkan penerbit harian Haaretz, Amos Schocken, sekarang Kemendagri Israel mengagendakan penghentian kerja sama dengan harian tersebut. Bahkan permintaan maaf dari Schocken pun pun tidak bisa mencegah gelombang tekanan terhadap Haaretz.
Dalam rapat Haaretz di London beberapa waktu lalu, Schocken menyatakan, Kabinet Benyamin Netanyahu memberlakukan kebijakan apartheid dan diskriminasi ras biadab terhadap warga Palestina. Sementara para pejuang Palestina yang berperang demi kemerdekaan justru disebut Israel sebagai “teroris.”
Ia mengatakan, apa yang terjadi di Gaza saat ini adalah Hari Nakbah II. Schocken menyerukan sanksi atas Israel dan berpendapat bahwa solusi tunggal untuk krisis ini adalah dibentuknya Pemerintahan Palestina.
Statemen Schocken mendorong Kementerian Budaya Israel melarang iklan-iklan pemerintahan dimuat di Haaretz. Kemendagri Israel juga menangguhkan segala bentuk kerja sama dengan Haaretz.
Pada Rabu lalu, Haaretz dalam headline-nya menulis,”Tidak begitu mengherankan ada banyak kesangsian bahwa Israel tidak melakukan genosida di utara Gaza…Sudah tiga setengah pekan pasukan Israel mengepung utara Gaza.”
“Israel bisa dikatakan melarang sepenuhnya bantuan kemanusiaan masuk ke utara Gaza. Ini berarti membuat ratusan ribu warga Palestina kelaparan. Nyaris tidak ada informasi yang diperoleh dari kawasan itu, sebab Israel melarang para wartawan memasuki Gaza.”
“Apa yang terjadi di Gaza adalah genosida terhadap orang-orang Palestina. Hal ini dilakukan dengan melancarkan serangan besar ke utara Gaza. Sekitar seribu warga Palestina tewas dalam rentang 3 pekan lalu. Ratusan ribu orang telantar dan ada banyak keluarga yang akan musnah. Ini adalah aib moral dan hukum yang akan menggelayuti jiwa tiap orang Israel.”
