Penulis Yordania: Sebutan ‘Negara’ Palestina adalah Muslihat Baru Barat!
POROS PERLAWANAN – Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara Barat merilis statemen resmi bahwa mereka mendukung pembentukan negara Palestina. Secara lahiriah, tindakan ini adalah langkah untuk mewujudkan keadilan bersejarah dan HAM. Namun benarkah demikian?
Diberitakan Fars, penulis asal Yordania, Kamal Mirza, menjawab pertanyaan ini dengan menyatakan,”Tampaknya, pengakuan ‘negara Palestina’ adalah suntikan bius baru yang digunakan Barat, yang kemudian kita terima untuk mengalihkan perhatian dari genosida dan kelaparan, menutupi kejahatan Rezim Zionis, dan memberi waktu kepada sindikat perangnya untuk menuntaskan misi!”
Dalam kolom berjudul “Mereka Menipumu dengan Mengatakan: Negara Palestina”, Mirza menambahkan,”Seperti yang dijelaskan (Peter) Taylor dan (Colin) Flint dalam buku ‘Political Geography: World-Economy, Nation-State, and Locality’, sembilan persepuluh hukum internasional dibangun atas dasar ‘realita yang ada.’”
Mirza lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan realistis berikut: Negara Palestina manakah yang akan diakui, setelah Gaza dihancurkan, warganya digenosida dan terlunta-lunta, Tepi Barat dicabik-cabik, dihancurkan, dan warganya diusir? Kartu truf perundingan dan tekanan manakah yang masih tersisa bagi warga Palestina dan Arab, jika seandainya Perlawanan kalah, faksi-faksinya dimusnahkah, dilemahkan, dan budaya perlawanan dihilangkan?
“Bahkan jika kita kembali ke sebelum 7 Oktober, bahkan andai tidak ada pembangunan permukiman, bahkan andai Gaza dan Tepi Barat berada di puncak kekuatan, bahkan andai ‘Pemerintahan’ Palestina berkuasa atas semua wilayah, bakal seperti apakah ‘negara’ tersebut?”
Mirza sendiri yang menjawab pertanyaan ini dengan menulis,”’Negara’ itu akan menjadi negara yang tercekik, terampas, senjata terlucuti tanpa kekuatan; negara yang sejak awal tak mampu hidup dengan mengandalkan dirinya; negara yang sudah mati bahkan sebelum dilahirkan!”
Mirza lalu menujukan seruannya kepada mereka yang akhir-akhir ini, di tengah memuncaknya krisis Gaza dan kejahatan Israel, berlagak sebagai pembela HAM dengan menggulirkan wacana Solusi Dua Negara.
“Kepada mereka yang bicara soal mengakui negara Palestina, mari kita bebaskan terlebih dahulu Palestina, supaya ada sesuatu untuk dibicarakan dan eksistensinya diakui,” tegasnya.
