Peran Sentral Hizbullah dan Amal Selaku Aktor Kunci Stabilitas Politik Lebanon
POROS PERLAWANAN – Setelah lebih dari dua tahun kekosongan kursi kepresidenan di Lebanon, Jozef Aoun akhirnya terpilih sebagai Presiden ke-14 Lebanon dalam putaran kedua sidang parlemen pada Kamis 9 Januari. Proses pemilihan ini menjadi bukti nyata peran sentral Hizbullah dan Gerakan Amal dalam menjaga stabilitas politik di negara tersebut.
Konteks Pemilihan Presiden
Dalam sidang parlemen pertama yang berlangsung pukul 11.00 waktu Beirut, Jozef Aoun, yang sebelumnya menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat Lebanon, hanya memperoleh 71 suara dari total 128 anggota parlemen yang hadir. Jumlah tersebut belum cukup untuk memenangkannya di putaran pertama. Dua jam kemudian, dalam putaran kedua, Aoun berhasil mengantongi 99 suara, mengakhiri kekosongan jabatan presiden yang telah berlangsung selama dua setengah tahun.
Keberhasilan ini tidak lepas dari intervensi strategis Hizbullah dan Gerakan Amal yang memainkan peran mediasi penting dalam meningkatkan dukungan suara untuk Aoun.
Pertemuan Strategis yang Menentukan
Menurut laporan dari stasiun televisi Al-Manar, di antara jeda dua putaran pemungutan suara, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri menunda sidang selama dua jam. Penundaan ini memberikan ruang bagi pertemuan strategis antara Jozef Aoun dengan Ketua Blok Loyalitas pada Perlawanan di parlemen, Mohammad Raad, dan Penasihat Politik Nabih Berri, Ali Hassan Khalil.
Dalam pertemuan tersebut, para pihak mencapai kesepahaman strategis yang mencakup empat poin utama:
1. Penafsiran Resolusi PBB 1701 dan 1559
Disepakati bahwa Resolusi 1701, yang mengatur gencatan senjata di wilayah Lebanon selatan, tidak berkaitan dengan Resolusi 1559. Resolusi 1701 hanya berlaku di wilayah selatan Sungai Litani, bertentangan dengan klaim pihak tertentu yang memperluas cakupannya hingga wilayah utara.
2. Peran Sentral dalam Pembentukan Pemerintahan
Hizbullah dan Gerakan Amal menegaskan peran mereka dalam pembentukan pemerintahan baru, baik dalam format teknokrat maupun lainnya, memastikan bahwa pengaruh mereka tetap terjaga di struktur kekuasaan negara.
3. Jaminan untuk Kementerian dan Institusi Penting
Kedua pihak memperoleh jaminan atas keterlibatan mereka di Kementerian Keuangan, institusi hukum, serta posisi strategis di sektor militer dan keamanan Lebanon.
4. Partisipasi dalam Rekonstruksi Lebanon
Jaminan juga diberikan untuk memastikan peran Hizbullah dan Gerakan Amal dalam upaya rekonstruksi pascakonflik yang menjadi prioritas nasional.
Hizbullah sebagai Aktor Kunci Politik Lebanon
Setelah pemilihan, seorang pemimpin senior Hizbullah, Mohammad Raad menyatakan bahwa Organisasi tersebut tidak hanya berperan sebagai penjaga kedaulatan nasional Lebanon, tetapi juga sebagai penjaga konsensus nasional. “Kami telah mengorbankan banyak Syuhada untuk mempertahankan kedaulatan dan persatuan nasional. Adalah hak Perlawanan untuk melindungi pengorbanan ini dan menjaga Lebanon dari setiap ancaman atau intervensi asing,” ujarnya.
Raad juga menekankan bahwa Hizbullah tetap setia pada seluruh rakyat Lebanon, tanpa memandang perbedaan agama atau sektarian, dan dukungan terhadap Jozef Aoun mencerminkan komitmen mereka terhadap stabilitas dan rekonsiliasi nasional.
Pesan Tegas kepada Pihak Domestik dan Internasional
Harian Al-Akhbar menyoroti bahwa pemilihan Jozef Aoun adalah pesan jelas kepada semua pihak, baik domestik maupun internasional, bahwa tanpa persetujuan Hizbullah dan Gerakan Amal, pemilihan presiden tidak akan terjadi. Proses ini menunjukkan konsensus politik di Lebanon sangat bergantung pada dukungan kedua pihak ini.
Awal Baru bagi Lebanon
Tokoh dari Gerakan Amal, Ali Hassan Khalil menyatakan bahwa pemilihan ini menandai awal baru bagi Lebanon. “Kami telah membuka babak baru dalam sejarah politik Lebanon. Kekosongan kepresidenan yang berkepanjangan kini telah berakhir, tetapi ini menuntut kerja sama seluruh elemen bangsa,” ujarnya.
Sementara dalam pidatonya, Jozef Aoun berjanji untuk membangun kepercayaan antara semua institusi negara, dengan tujuan menciptakan realitas baru yang lebih baik bagi Lebanon. Pemilihan ini, dengan segala kompleksitasnya, menegaskan bahwa konsolidasi politik di Lebanon hanya dapat dicapai melalui dialog dan konsensus nasional.
