Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Perancang Sanksi AS Akui Gagalnya Tekanan Barat terhadap Iran

POROS PERLAWANAN — Perancang utama sanksi “cerdas” Amerika Serikat, Richard Nephew mengakui dalam sebuah laporan terbaru bahwa blok Barat kini “bertangan kosong” dalam menghadapi kemajuan nuklir dan rudal Republik Islam Iran. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya bahkan tidak memiliki sarana maupun instrumen yang memadai untuk merespons langkah Iran apabila terjadi konfrontasi baru.

Dilansir Kayhan pada Senin 27 Oktober, Nephew, pakar di Washington Institute dan penulis buku “The Art of Sanctions”, menjelaskan dalam proposal kebijakannya kepada para pejabat Amerika bahwa Pemerintah AS, bersama sekutunya, hanya dapat membeli waktu dengan memperlambat kemampuan Iran dalam memulihkan pertahanan dan memperkuat kemampuan rudalnya.

Dalam rancangannya, Nephew membangun apa yang disebut sebagai “arsitektur penahanan sipil” terhadap program nuklir dan rudal Iran, yang bertumpu pada tiga pilar utama:

1. Mengaktifkan kembali kewenangan resolusi Dewan Keamanan PBB dengan fokus pada pemutusan rantai pasokan;

2. Membentuk inti koordinasi informasi dan diplomasi di antara negara-negara yang sehaluan, alih-alih hanya bergantung pada mekanisme PBB; dan

3. Menyegarkan kesadaran Pemerintah Barat atas ketentuan hukum internasional yang dapat digunakan sebagai dasar tindakan preemptif terhadap Iran.

Menurut Nephew, sejak awal, tujuan strategi ini bukanlah untuk menghentikan sepenuhnya program nuklir Iran, melainkan untuk “menciptakan penundaan, meningkatkan biaya, serta mempersulit jalannya”, guna memberi waktu bagi Washington dan sekutunya merancang opsi tekanan yang lebih keras.

Setelah diberlakukannya kembali sanksi PBB melalui mekanisme snapback, Washington Institute meluncurkan model baru yang bersifat teknis-keamanan dan menitikberatkan pada gangguan rantai pasokan global. Rantai tersebut, menurut lembaga pemikir itu, masih bergantung pada pasar internasional untuk sejumlah komponen penting dan langka yang tidak dapat digantikan dari sumber domestik Iran.

Namun, Nephew juga mengakui bahwa Iran tidak memulai dari titik nol. Cadangan material, infrastruktur industri, pengetahuan teknis, serta sumber daya manusia telah sepenuhnya dipertahankan. Oleh karena itu, strategi yang realistis bukanlah penghancuran total kapasitas Iran, melainkan penghambatan laju rekonstruksi dan pengembangan di jalur sipil dan industri pertahanan.

Dalam laporan tersebut, Nephew secara implisit mengonfirmasi bahwa front Barat kini kekurangan alat efektif untuk menghadapi kemajuan nuklir dan rudal Iran. Ia menilai bahwa kemampuan teknologi dan ilmiah Iran telah mencapai tingkat kemandirian yang membuat kebijakan sanksi dan tekanan ekonomi sulit menghasilkan efek jera yang diharapkan.

Analisis ini, secara tidak langsung, memperkuat pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran bahwa pengetahuan dan kemampuan teknologi Iran bersifat lokal dan mandiri, bukan hasil pinjaman atau impor yang dapat dihancurkan melalui serangan atau sanksi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *