Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Perang Sesungguhnya di Depan Mata Itu ‘Kontrol Media dan Penggiringan Opini Publik atas Kekejaman Israel di Palestina’

Tuding para Rival AS Lakukan Disinformasi, Washington Juga Lakukan Hal Serupa

POROS PERLAWANAN – Tucker Carlson adalah salah satu presenter terkenal Fox News di Amerika, yang acaranya menjadi salah satu dari empat program paling banyak ditonton di negara itu, mengumpulkan sekitar tiga juta penonton setiap malam. Namun, ketika ia mengkritik hasil Pilpres 2020 dan mempertanyakan dukungan AS terhadap Ukraina, Fox News dengan cepat memutuskan hubungan dengannya pada April 2023.

Bahkan figur sekuat Donald Trump pun tidak kebal terhadap kontrol ini—semua akun media sosialnya diblokir setelah kerusuhan di Capitol pada Januari 2021. Meski Trump mendirikan platform sendiri, Truth Social, usahanya tetap dibatasi oleh penghapusan aplikasi tersebut dari toko Google.

Pembatasan serupa juga terlihat pada jurnalis BBC yang mendukung Palestina secara terbuka, seperti Salma Khateb dan Nada Abdelsamad, yang diberhentikan secara tiba-tiba hanya karena menyukai (memencet tombol like) atau membagikan konten-konten yang memandang Hamas sebagai pejuang kebebasan.

Begitu juga kartunis Guardian, Steve Bell, dan sejumlah editor majalah terkemuka di Inggris dan AS yang dipecat secara sepihak hanya karena konten pro-Palestina. MSNBC bahkan memecat tiga presenter Muslimnya sekaligus, tanpa penjelasan pada awal Oktober 2023.

Seiring meningkatnya kekerasan di Gaza, media Barat memperketat kontrolnya. Profesor hukum dari Universitas Chicago, Genevieve Leclerc membandingkan situasi ini dengan era McCarthy, saat Pemerintah AS secara agresif menyensor suara-suara kritis di masa Perang Dingin. Bahkan di tengah aksi protes atas kekejaman Israel di Eropa dan AS pada April 2024, Kongres AS memperketat definisi antisemitisme, memasukkan frasa seperti “Palestina Merdeka dari Laut hingga Sungai” ke dalam kategori tersebut, yang secara efektif membungkam dukungan untuk Palestina.

Di Israel, respons serupa diterapkan. Ketika penerbit Haaretz, Amos Schocken menyebut Hamas sebagai “pejuang kebebasan”, ia ditekan untuk meminta maaf, sementara rezim Israel mempertimbangkan pemboikotan penuh terhadap surat kabar tersebut.

Tak berhenti pada tindakan internal, rezim represif Israel juga merancang kampanye media sosial besar-besaran untuk memengaruhi opini publik di Eropa dan AS. Dari awal konflik pada 7 hingga 16 Oktober, Kementerian Luar Negeri Israel mengeluarkan lebih dari 100 iklan pro-Israel yang ditargetkan untuk pengguna dewasa hingga anak-anak di YouTube, meraih sekitar 16 juta penonton hanya dalam sembilan hari pertama. Dilaporkan bahwa Israel menghabiskan lebih dari $1,5 juta hanya untuk kampanye tersebut.

Selain itu, Kementerian Diaspora Israel juga bekerja sama dengan perusahaan media sosial AS untuk memengaruhi opini publik global. Menteri Diaspora Israel, Amichai Chikli mengakui adanya anggaran khusus untuk lebih dari 80 proyek yang menargetkan publik AS.

Menurut laporan The Guardian, sejak Oktober 2023 hingga Mei 2024, Israel telah menghabiskan setidaknya $8,6 juta untuk operasi ini. Bahkan kampanye terpisah dijalankan oleh perusahaan Stoic, dengan lebih dari 600 akun palsu yang menyebarkan ribuan konten pro-Israel setiap minggunya.

Langkah Israel ini juga ditiru oleh berbagai kelompok pro-Israel di Amerika, yang menggelontorkan jutaan Dolar untuk memengaruhi opini publik.

Pada Maret 2024, para pemimpin kelompok pro-Israel dari seluruh dunia berkumpul untuk membahas strategi yang diterapkan selama konflik. Menurut laporan Ketua Mosaic United, Meir Holz, kelompoknya telah menerima $12,8 juta dari rezim Israel untuk kampanye ini.

Di tengah berbagai upaya propaganda Israel, terlihat jelas bahwa bagi Pemerintah AS dan Israel, mengendalikan opini publik sama pentingnya dengan pertempuran fisik. Benyamin Netanyahu pada 2002 bahkan menyatakan bahwa Amerika cukup menggunakan “pemancar raksasa” untuk menyebarkan konten hiburan AS di seluruh dunia sebagai alat pengaruh yang signifikan.

Sejak dimulainya perang Gaza, media-media dengan berbagai bahasa, termasuk Indonesia, yang pro-Israel gencar menyebarkan pesan, bahkan Netanyahu mengirimkan pesan video khusus dengan terjemahan berbagai bahasa dunia. AS dan Israel tidak hanya memerangi wilayah, tetapi juga memengaruhi pikiran publik di seluruh dunia.

Perang ini sangat nyata, Bung! Dan terjadi tepat di depan mata kita. Pertanyaannya, apakah kita sudah menyadari bahwa perang yang kini ada, sudah berada di depan mata kita? [PP/MT]

Catatan: semua referensi ada pada Redaksi PP

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *